Menunggu Hujan, Petani Boyolali Tanam Kangkung dan Sawi

Petani di Desa Dibal, Ngemplak, Boyolali menanam sawi, Kamis 6/9 - 2018). Menghadapi kemarau panjang, petani Dibal memilih untuk menanam sawi sambil menunggu hujan. (Solopos/Nadia Lutfiana Mawarni)
08 September 2018 04:00 WIB Anik Sulistyawati Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI - Kemarau panjang selama lebih dari tujuh bulan membuat para petani mesti memutar otak memanfaatkan area persawahan. Tahun ini untuk kali pertama petani di Desa Dibal Kecamatan Ngemplak, Boyolali, memilih menanam sawi dan kangkung sambil menunggu hujan. Pasokan air dinilai belum memadahi untuk musim tanaman padi periode berikutnya.

Salah satu petani di Desa Dibal, Ratno, 50, mengatakan tahun ini dia mencoba menanam sawi. Langkah ini ditempuh karena hujan tak kunjung datang. “Kalau dulu kan perkiraan musim jelas, kapan hujan kapan kemarau, jadi tandur bisa diperkirakan,” kata dia ketika berbincang dengan reporter Solopos.com, Nadia Lutfiana Mawarni, Kamis (6/9/2018).  Bagi Ratno, penghasilan dari menanam sawi masih lebih baik ketimbang menganggur. Sehari-hari dia menggarap dua petak sawah yang merupakan lahan bengkok kepala desa.

Ratno mulai menanam sawi hampir tiga bulan lalu bermodal mesin diesel untuk memompa air dari sumur pantek. Untuk memenuhi kebutuhan air di area persawahan, Ratno menghabiskan dua liter bensin untuk 1.000 meter persegi area persawahan. Ratno mengaku sembari menunggu hujan, dia akan terus menanam sawi dan kangkung. Rata-rata kangkung dapat dipanen setelah 30 hari, sementara sawi bisa panen setelah 1,5 bulan.

Ratno mengaku tak memperhitungkan keuntungan dalam menanam sawi dan kangkung ini. “Yang penting bisa untuk ngobahne [memutar modal],” kata dia. Langkah Ratno ini juga ditiru oleh petani lain, Kuntanto, 34. Sejak Ramadan lalu, Kuntanto sudah beralih dari bertanam padi menjadi bertanam kangkung. Total hingga kini lahannya sudah tiga kali panen kangkung. Kuntanto mengatakan selama tidak ada hujan dirinya akan terus bertanam kangkung. “Belum tahu mau jadi petani kangkung sampai kapan,” tandasnya.

Tahun ini kekeringan di lahan pertanian tersebar di delapan kecamatan di Kabupaten Boyolali. Tercatat di Kecamatan Ngemplak 9 hektare lahan mengalami kekeringan dengan intensitas ringan, sementara 1 hektare lainnya diketahui puso.