Pasangan Inilah Jawara Mas Mbak Klaten 2018

Bupati Klaten Sri Mulyani memberikan penghargaan kepada Mas Mbak Klaten terpilih dalam malam grand final Mas Mbak Klaten 2018 di kawasan alun-alun Klaten, Sabtu (8/9/2018) malam.(Solopos - Cahyadi Kurniawan)
09 September 2018 21:10 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN--Ajang pemilihan Mbak Mas Klaten 2018 menghasilkan 20 putra-putri terbaik Klaten dari 157 peserta yang mendaftar. Kepiawaian berbicara dan gagasan cemerlang finalis kembali diadu pada malam grand final di Alun-alun Klaten, Sabtu (8/9/2018) malam.

Ada 18 kontestan menyampaikan idenya seusai melihat video tanpa suara bertema tertentu. Bukan sekadar pariwisata, tema-tema lain diujikan meliputi wayang klithik, gotong royong, intoleransi, hoax, hingga pilpres. Mereka berbicara selama 60 detik di hadapan juri, perwakilan Duta Wisata Se-Soloraya dan Jogja, Duta Wisata Indonesia, Bupati Klaten dan Forkompimda, hingga ribuan pasang mata yang memenuhi kawasan alun-alun.

Salah satu kontestan, Imas Nur Hafida, 19, asal Juwiring, misalnya mendapatkan pertanyaan berupa visualisasi wayang klithik. Menurut dia, wayang klithik merupakan kesenian berasal dari Klaten. Wayang itu dinamai klithik lantaran berbunyi klithik-klithik saat dipentaskan. Selain berfungsi sebagai hiburan, wayang klithik lazim dipakai untuk mengajarkan pesan-pesan moral kepada masyarkat. “Ini menjadi tugas bersama kita untuk mempromosikan dan melestarikan wayang klithik,” ujar dia, disambut tepuk tangan hadirin.

Finalis asal Pedan, Vanessa Surya Swastika Kurniawati, 20, giliran mendapat visualisasi beras Delanggu. Ia berpendapat, beras Delanggu merupakan produk unggulan Delanggu yang memiliki karakter beras enak, putih, pulen, dan wangi yang khas. Beras Delanggu jadi ikon klaten yang akan mendatangkan wisatawan, baik domestik maupun luar negeri. Mereka bisa belajar bagaimana beras itu diproduksi di Klaten. “Namun, banyak warga Klaten yang tidak tahu beras Delanggu menjadi ikon Klaten. Mari kita perbanyak konsumsi beras Delanggu,” tutur Vanessa.

Duta Wisata Indonesia 2017, Indira Salsabila Ayu Wibowo juga hadir. Ia memberikan pertanyaan spesial kepada finalis asal Delanggu, Dimas Krismonantoro, 20. “Apa yang Anda ketahui tentang wisata berbasis masyarakat? Lalu, bagaimana pengembangan wisata berbasis masyarakat di Indonesia?” tanya Indira yang pernah menjadi Mbak Klaten 2016 ini.

Wisata berbasis masyarakat mengedepankan peran masyarakat untuk menggali potensi-potensi lokal dan mengelolanya menjadi tujuan wisata. Pengelolaan itu berdampak pada peningkatan nilai ekonomi potensi yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyakat lokal. Pengembangan wisata berbasis masyarakat mulai dikembangkan sejumlah untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat,” balas pria yang juga mahasiswa Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Solo ini.

Pertanyaan spesial juga datang dari Duta Wisata Indoensia 2017, Jodi Satria Affan. Jodi memberikan pertanyaannya kepada Intan Permata Ningtyas, 23, asal Karangnongko. “Pilpres merupakan pemilu untuk memilih presiden dan wakil presiden setiap lima tahun sekali. Bagaimana cara Anda mengajak masyarakat untuk meyukseskan pilpres 2019?” tanya Jodi.

Intan menjawab, pilpres merupakan pesta demokrasi bangsa Indonesia yang harus disambut gembira mereka yang memiliki hak pilih. Hasil pilpres menentukan kebijakan lima tahun ke depan termasuk kebijakan soal pariwisata. “Untuk menyukseskan Pilpres, saya mengajak generasi muda menggunakan hak pilih, datang ke TPS dan mencobos sesuai hati nuraninya. Mari kita sukseskan Pilpres 2019,” ajak Intan.

Puncak malam grand final itu menobatkan Astya Kriswisesa, 22, asal Karangnongko sebagai Mas Klaten 2018. Ia berpasangan dengan Imas Nur Hafida. Keduanya sama-sama tak menyangka bakal terpilih jadi juara. “Ini ajang bergengsi dan banyak yang lebih cantik dari saya. Ini anugerah buat saya,” ujar Imas seusai acara.

Menurut dia, salah satu prioritas untuk memajukan pariwisata Klaten adalah mengatasi masalah kebersihan. Langkah selanjutnya adalah mengembangkan desa-desa wisata. “Prioritasnya adalah kebersihan. Jadikan Klaten kota yang bersih,” tutur perempuan kelahiran 26 November 1999.

Tokopedia