Mengejutkan, Ini Kata Mahasiswa Asing Soal Kirab 1 Sura di Solo

Warga berebut air dan kembang bekas jamasan pusaka dalam rangkaian Kirab 1 Sura Pura Mangkunegaran Solo, Senin (10/9/2018). - (Solopos/Sunaryo Haryo Bayu)
11 September 2018 20:37 WIB Ratih Kartika Solo Share :

Solopos.com, SOLO - Kirab 1 Sura di Pura Mangkunegaran Solo selalu menyedot perhatian banyak orang dari banyak kalangan. Artis, pejabat pemerintahan, tokoh terkenal, mahasiwa asing, dan masyarakat umumnya. Kirab 1 Sura yang dibarengi jamasan pusaka menyimpan cerita sekaligus makna.

Di Pura Mangkunegaran, kirab 1 Sura digelar Senin (10/9/2018). Kirab pusaka diikuti sentana dan abdi dalem. Selama kirab mengelilingi Pura Mangkunegaran mereka tidak diperkenankan bicara alias harus tapa bisu. Dengan berbaju serba hitam mereka menjalani kirab dalam diam, disusul para peserta dari masyarakat umum yang sengaja ikut kirab untuk ngalap berkah.

Tampak dalam rombongan peserta kirab seperti mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Wakil Wali Kota Solo Achmad Purnomo, anggota DPR Aria Bima, dan artis Bertrand Antolin. Mereka mengikuti kirab hingga seluruh prosesi sebelum pusaka yang telah dikirab dimasukkan kembali.

Barisan paling depan tidak boleh saling bicara karena mereka tengah melakukan laku tapa bisu. Laku tapa bisu sebagai bentuk instrospeksi diri. “Kita berdoa di tahun yang akan datang lebih cerah,” kata Pengageng Kawedanan Satrio Pura Mangkunegaran, K.R.M.T. Liliek Priarto, seusai acara.

Zsuzsa Lehcz adalah satu dari beberapa warga negara asing (WNA) yang tampak di sela-sela acara. Dia adalah darmasiswa atau mahasiswa asing penerima beasiswa dari pemerintah Indonesia yang kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo.

Bagi Zsuzsa, melihat kirab dan jamasan pusakan Senin malam itu adalah hal luar biasa. Dia begitu gembira menyaksikan antusiame warga berebut air bekas jamasan pusaka. Tak terbayangkan sebelumnya, dia akan melihat bukti kuatnya tradisi di masyarakat itu.

“Eksotis. Ini benar-benar sebuah kegiatan yang benar-benar luar biasa dan cantik,” kata dia dalam bahasa Inggris saat ditanya solopos.com.

Air sisa jamasan pusaka maupun kembang di meja proses pencucian memang menjadi rebutan warga yang memadati Pura Mangkunegaran. Warga Kacangan, Boyolali, Darpin, mengambil bunga hasil jamasan pusaka tersebut untuk menyuburkan sawahnya. “Khusus buat tandur, biar tanaman semakin subur,” cerita dia.

Warga Karanggede, Boyolali, Mukaminem, rela berangkat dari kediamannya pada pukul 16.30 WIB untuk mengambil air sisa jamasan dan kembang agar mendapatkan berkah. “Nandur biar subur, dagang biar lancar, sehat, dan panjang umur,” jelasnya.