Air Tanah 4 Desa di Klaten Tak Layak Konsumsi

Warga mengantre bantuan air bersih dari PDAM Tirta Merapi Klaten di Desa Demangan, Kecamatan Karangdowo, Klaten, Jumat (7/9/2018). (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
11 September 2018 18:50 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN Sebanyak empat desa di Kecamatan Karangdowo mengalami krisis air bersih. Hal itu menyusul kondisi air tanah berasa asin serta mengandung kapur.

Salah satunya yakni Desa Demangan. Desa itu berada di alur Kali Dengkeng dan berbatasan dengan Desa Majasto, Kecamatan Tawangsari, Sukoharjo. Di desa itu, air dari sumur warga berasa asin dan kandungan zat besi tinggi. Selain itu, ada sumur warga yang mengandung kapur.

Kepala Desa Demangan, Ngadiman, menjelaskan kondisi air sumur tak layak konsumsi sudah berlangsung bertahun-tahun. “Sejak saya lahir 1950 memang kondisinya seperti itu. Kalau pun tidak asin, ada yang mengandung kapur. Kalau mau dikonsumsi harus diendapkan dulu,” kata Ngadiman saat ditemui di Demangan, Jumat (7/9/2018).

Selama ini warga membeli air untuk konsumsi dari para pedagang yang kerap berkeliling di kampung itu. Sementara, air untuk mandi serta mencuci masih menggunakan air sumur. Harga air bersih untuk satu jeriken ukuran 20 liter senilai Rp2.500-Rp3.000 rata-rata digunakan untuk keperluan konsumsi selama dua hingga tiga hari. Pembelian air bersih dilakukan warga sepanjang waktu alias tak terpengaruh musim hujan atau kemarau.

Ngadiman menjelaskan upaya untuk mencari sumber air bersih pernah dilakukan melalui bantuan program nasional penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (pamsimas). Sumur pertama dibangun sekitar 2008 dengan kedalaman 120 meter. Namun, air yang keluar tetap berasa asin.

Sumur kedua dibangun sekitar 2017 dengan kedalaman 80 meter. Meski upaya mencampur zat penetral sudah dilakukan, rasa air tetap asin. Selain tak layak konsumsi, air tanah di desa setempat juga tak layak untuk pertanian. Air tanah pernah dialirkan ke sawah namun tanaman padi justru mati.

Ngadiman berharap sambungan air bersih dari PDAM Tirta Merapi Klaten menjangkau desa setempat. “Satu-satunya jalan air dari PDAM itu bisa sampai Demangan. Saya sudah berbicara dengan direktur PDAM dan camat. Syukur-syukur satu tahun mendatang sudah ada solusi,” jelas dia.

Kaur Perencanaan Desa Demangan, Ida Narmaja, menjelaskan Demangan terdapat sekitar 1.100 keluarga yang tinggal di 20 rukun tetangga (RT) dan delapan rukun warga (RW). Seluruh warga selama ini membeli air untuk konsumsi yang dijual para pedagang setelah mengambil dari wilayah Sukoharjo atau Karanganyar.

Warga sudah membeli air bersih sejak 2013 lalu. Sebelumnya, warga tetap mengonsumsi air sumur mereka meskipun tak layak lantaran tak ada pilihan lain. Ia menjelaskan upaya penyulingan pernah dilakukan dari air sumur pamsimas namun hal itu tak membuahkan hasil. “Ada semacam ide itu mau ambil dari Kali Dengkeng yang nanti disaring,” katanya.

Camat Karangdowo, Agus Suprapto, menuturkan selain Demangan tiga desa lainnya juga selama ini mengalami krisis air bersih yang terjadi hampir sepanjang tahun. Ketiga desa itu yakni Babadan, Tumpukan, serta Ringinputih. Jumlah total penduduk yang tinggal di empat desa krisis air bersih mencapai 11.000 jiwa.

Kami tidak tahu penyebabnya apa. Mungkin karena faktor geologi empat desa itu. Untuk konsumsi warga tetap harus membeli air bersih. Kami sudah mencoba untuk kerja sama dengan PDAM agar layanannya bisa menjangkau hingga Karangdowo,” kata Agus.

Selain Karangdowo, persoalan krisis air bersih sepanjang tahun juga dialami di wilayah Cawas. Camat Cawas, M. Nasir, menjelaskan sebagian desa di wilayahnya sudah terjangkau layanan PDAM serta kebutuhan air bersih terpenuhi dari sumur Pamsimas. Namun, ada desa yang masih mengalami persoalan krisis air bersih untuk konsumsi seperti Desa Tlingsing. Di desa itu, air tanah mengandung kapur. “Kalau permintaan dropping air bersih sampai hari ini kami belum menerima pengajuan dari desa,” kata Nasir.