Ada Kirab Legondo di Klaten, Ini Maknanya

Warga mengusung gunungan berisi legondo dan hasil bumi mengelilingi perkampungan hingga petilasan Sunan Kalijaga di Dukuh Sepi, Desa Barepan, Kecamatan Cawas, Klaten, Senin (10/9/2018). (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
11 September 2018 20:00 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Painah, 60, mengusap peluh di dahi menggunakan sisa kain tenun lurik yang melingkari bahunya dari sengat matahari, Senin (10/9/2018) sekitar pukul 14.30 WIB. Ia berdiri di antara rombongan orang yang memenuhi jalan kampung Dukuh Sepi, Desa Barepan, Kecamatan Cawas, Klaten.

Meski kelelahan dan kepanasan, senyum nenek lima cucu dan dua cicit itu terus mengembang. Penantiannya sejak pukul 11.00 WIB terbayar setelah berhasil mendapatkan isi gunungan. Empat legondo hasil mengambil dari gunungan ia simpan dibalut kain tenun untuk dinikmati di rumahnya, Dukuh Noyotrunan, Desa/Kecamatan Cawas.

Kala wau nggih disuk wong akeh nanging rasane tetep seneng [Tadi saya juga berdesakan dengan banyak orang tetapi rasanya tetap senang],” kata Painah.

Kartini, 36, warga Kabupaten Demak, sejak Minggu (9/9/2018) sudah menginap di rumah saudaranya di Cawas lantaran penasaran dengan kirab legondo. Ia kian lega setelah berhasil mendapatkan legondo dari gunungan meski hanya satu biji. “Ya nanti mau dimakan. Rasanya ayem sudah dapat legondo,” kata Kartini.

Senin siang, warga Dukuh Sepi, Desa Barepan menggelar kirab gunungan berisi sekitar 3.000 legondo dan berbagai hasil bumi. Ada lima gunungan yang dikirab mengelilingi jalan kampung dan jalan raya sejauh 1 km hingga tiba di petilasan Sunan Kalijaga. Kirab gunungan diiringi warga membawa tumpeng berisi aneka makanan, para kepala desa di Cawas, serta kesenian jatilan.

Legondo merupakan makanan khas warga Barepan yang khusus tersaji saban tahun baru Hijriyah atau 1 Muharam tiba. Memiliki cita rasa gurih, makanan itu berbahan beras ketan putih ditaburi parutan buah kelapa serta dibungkus menggunakan janur.

Ketua RW 008, Dukuh Sepi, Agus Purwono, menjelaskan tradisi warga membuat legondo saat 1 Muharam sudah berlangsung secara turun temurun. Salah satu tujuannya untuk menyambut para peziarah yang rutin membanjiri petilasan Sunan Kalijaga terutama saat malam 1 Muharam. Petilasan Sunan Kalijaga yang dimaksud berupa batu putih yang diyakini menjadi alas Sunan menunaikan Salat Subuh di tengah kali. Cekungan yang terbentuk pada batu diyakini merupakan bekas tekanan kepala, telapak tangan, dan telapak kaki Sang Sunan saat melakukan gerakan salat.

Legondo memiliki makna khusus bagi warga desa setempat. Legondo bagi mereka diartikan lega ing dada (lega di dalam dada). Tutus atau tali dari belahan bambu yang terikat pada bungkus legondo sebagai simbol kautus yang berarti utusan dari mana-mana datang ke Dukuh Sepi untuk saling mempererat tali silaturahmi. Jika sebelumnya hanya tersaji saat 1 Muharam tiba, legondo kini sering disajikan ketika warga menggelar hajatan. “Satu tahun terakhir sering dimunculkan seperti setiap ada orang punya gawe, sajian yang sebelumnya lemper sekarang diganti legondo,” jelasnya.

Kepala Desa Barepan, Irmawan Andriyanto, menjelaskan selain menyambut tahun baru Hijriyah yang jatuh pada Selasa (11/9/2018), kirab gunungan bertujuan memopulerkan legondo.

Menurut sejumlah sesepuh desa legondo itu dibuat Sunan sebagai salah satu cara untuk menyiarkan agama Islam ke warga,” kata Irmawan. Ia berharap legondo bisa menjadi salah satu ikon Desa Barepan seperti apam yang sudah terkenal sebagai jajanan khas Kecamatan Jatinom, Klaten.

Selama ini kami sudah mulai mengenalkan legondo kepada setiap tamu yang datang ke Barepan,” kata Irmawan.

Camat Cawas, M. Nasir, berharap tradisi membuat legondo menyambut 1 Muharam tak luntur. Ia juga meminta kirab legondo yang baru kali pertama digelar tersebut bisa menjadi kegiatan rutin hingga mengundang warga dari berbagai daerah berdatangan.

Tokopedia