5 Hari, 3 Nyawa Melayang di Jalur Solo-Ponorogo Wonogiri

Pengguna jalan melintas di jalan Wonogiri/Ponorogo, Bulusulur, Wonogiri, belum lama ini. (Solopos/Rudi Hartono)
11 September 2018 11:15 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Tiga orang meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas (lakalantas) di jalur Solo-Ponorogo wilayah Wonogiri selama lima hari pada pekan lalu.

Jalan provinsi ruas Wonogiri dinilai sebagai jalur rawan menimbulkan lakalantas. Bahkan, Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Wonogiri memasukkan ruas di dalam kota sebagai black spot atau jalur sangat rawan terjadi kecelakaan.

Data yang diperoleh Solopos.com dari Polres Wonogiri, Minggu (9/9/2018), lakalantas maut di jalur Solo-Ponorogo terjadi di dekat perbatasan Nguter, Sukoharo-Selogiri, Wonogiri, tak jauh dari perempatan Dusun Nangger, Rabu (5/9/2018).

Seorang pengendara Yamaha Force One berpelat nomor AD 5520 FG, Giman, 70, warga Nangger yang saat itu menyeberang jalan tertabrak truk dari arah Nguter. Tubuh Giman terpental beberapa meter dari lokasi kejadian akibat benturan yang keras. Giman meninggal dunia di tempat.

Kecelakaan terjadi karena pengemudi truk berpelat nomor AD 1442 MD itu, Renova Adhudtya Putra W., 23, warga Tawangsari, Mojosongo, Jebres, Solo, diduga tak bisa menghindari Giman yang tiba-tiba muncul.

Renova semula tak mengetahui Giman menyeberang karena pandangannya terhalang mobil kontainer yang sedang terparkir di bahu jalan.

Tiga hari berselang, Sabtu (8/9/2018), kecelakaan maut terjadi di ruas Dusun Ketonggo RT 004/RW 002, Kerjo Lor, Ngadirojo. Pengendara Honda Vario berpelat nomor AD 2505 ADG, Sukiman, 58, warga Tawang Lor, Tawangrejo, Jatipurno, Wonogiri, meninggal dunia setelah tertabrak bus dari arah berlawanan.

Sukiman saat itu melaju dari timur. Sesampainya di lokasi kejadian bus berpelat nomor AB 7999 AF yang dikemudikan Heri Budianto, 49, warga Wonokarto, Kecamatan Wonogiri, melaju di lajur Sukiman berada.

Saat itu bus berupaya menyalip truk di depannya. Alhasil, seketika Sukiman tertabrak bus.

Peristiwa terakhir terjadi di ruas Wates Wetan, Bangsri, Purwantoro, Minggu pukul 04.15 WIB. Seorang nenek-nenek warga sekitar lokasi kejadian, Sepen, 78, menjadi korban tabrak lari saat berjalan di tepi jalan.

Diduga kuat dia tertabrak truk. Dugaan itu mencuat karena ada warga yang mengaku melihat truk melaju tak stabil sesaat sebelum kejadian. Saat itu warga tersebut mengaku mendengar suara benturan cukup keras.

Kasatlantas Polres Wonogiri, AKP Dwi Erna Rustanti, kepada Solopos.com, Minggu, mengatakan jalan raya Solo-Ponorogo ruas Wonogiri merupakan salah satu jalur rawan lakalantas. Jalurnya sempit di di beberapa bagian, tetapi padat kendaraan.

Selain itu jalan tersebut banyak tanjakan/turunan dan berkelok. Faktor human error mempertinggi potensi terjadinya kecelakaan. Contohnya, menyalip terlalu ke kanan atau hingga melampaui lajur lawan, melaju kencang, dan sebagainya.

“Imbauan selalu kami sampaikan. Berada di jalur ramai harus ekstra hati-hati,” kata Erna mewakili Kapolres Wonogiri, AKBP Robertho Pardede saat dihubungi Solopos.com.

Satlantas menetapkan jalan Solo-Ponorogo ruas Jl. Diponegoro, yakni dari timur perempatan Pokoh ber-traffic light, Wonoboyo hingga dekat gang masuk-keluar SMKN 2 Wonogiri sebagai black spot. Hal itu berdasar analisis 2017.

Lakalantas yang terjadi dalam setahun di ruas tersebut paling banyak di banding di ruas lain. Tingkat kefatalan lakalantas juga paling parah.

Sebanyak 541 lakalantas yang terjadi selama 2017, 25 peristiwa di antaranya terjadi di ruas tersebut dan menimbulkan korban jiwa enam orang.