Solopos Hari Ini: Dilema Partai Hadapi Pemilu Serentak

Harian Umum Solopos edisi Rabu (12/9 - 2018).
12 September 2018 11:00 WIB Ginanjar Saputra Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Partai politik (parpol) mulai memikirkan strategi untuk menjaga suara dalam pemilu legislatif di tengah ketatnya pemilihan presiden (pilpres). Kondisi ini tidak lepas dari pelaksanaan pemilu legislatif (pileg) dan pilpres yang digelar bersamaan pada 17 April 2019.

Keuntungan elektoral tidak bisa diperoleh semua partai dari kompetisi pilpres. "PAN, PKS, dan Demokrat di pemilu berbarengan berat. Di satu sisi sedang mencari dukungan agar partainya tetap lolos dan bertahan di parlemen, di sisi lain harus mencari dukungan untuk presiden dan wakilnya bukan dari partai sendiri. Harus ada seni agar Gerindra tak besar sendirian," ujar Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arief lewat akun Twitternya, Selasa (11/9/2018).

Kabar terbaru tentang dinamika politik menjelang Pemilu 2019 mendatang tersebut menjadi salah satu headline pada Harian Umum Solopos edisi hari ini, Rabu (12/9/2018). Berita itu bisa dibaca selengkapnya di: E-Paper Solopos.

Selain itu, Harian Umum Solopos edisi hari ini juga menyoroti salah satu objek wisata terbaru di Kabupaten Klaten. Salah satu objek wisata itu bernama Watu Sepur yang baru dibuka 7 September 2018.

Sisihkan Rp300.000/Bulan untuk Anak Yatim

Objek wisata Watu Sepur dibuka secara resmi 7 September lalu sejak ditata pada awal tahun. Watu Sepur menyajikan pemandangan deretan bebatuan purba menyerupai ombak di Dukuh Bogoran, Desa Jotangan, Bayat, Klaten.

Bentuknya panjang sekitar 100 meter membuat daerah itu dinamai Watu Sepur. Bebatuan itu sama tuanya dengan batu di desa sekitarnya seperti di Desa Kebon dan Desa Gununggajah. Di Watu Sepur, batu itu berada di puncak bukit yang tak lebih tinggi dari Bukit Cinta di Gununggajah maupun Bukit Pertapan di Desa Kebon.

Simak secara lengkap di: E-Paper Solopos.

Sedangkan di halaman Soloraya pada Harian Umum Solopos edisi hari ini, terdapat berita utama tentag peringatan 1 Muharam di Kota Solo. Kabar relokasi warga terdampak proyek penanganan banjir di Klaten juga menjadi headline pada halaman Soloraya.

Berharap Legondo Jadi Ikon Barepan

Painah, 60, mengusap peluh di dahi menggunakan sisa kain tenun lurik yang melingkari bahunya dari sengat matahari, Senin (10/9/2018) sekitar pukul 14.30 WIB. Ia berdiri di antara rombongan orang yang memenuhi jalan kampung Dukuh Sepi, Desa Barepan, Kecamatan Cawas, Klaten.

Meski kelelahan dan kepanasan, senyum nenek lima cucu dan dua cicit itu terus mengembang. Penantiannya sejak pukul 11.00 WIB terbayar setelah berhasil mendapatkan isi gunungan.

Baca secara lengkap di: E-Paper Solopos.

Harus Berjuang Demi Rumah Baru

Sebanyak 46 warga atau keluarga dari Kelurahan Manahan, Banjarsari, Solo, yang terdampak proyek Penanganan Banjir Kota Solo Paket 3 (Kali Pepe Hulu) belum juga mulai membangun rumah baru di Desa Tepisari, Polokarto, Sukoharjo. Sekretaris Pokja Relokasi Warga Manahan, Tumino, tidak mengetahui secara pasti penyebab mereka belum mulai membangun rumah baru di Tepisari.

Yang jelas kata dia, warga terdampak proyek Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) tersebut masih mengantongi dana senilai Rp12,8 juta untuk keperluan membangun rumah baru. Dana tersebut merupakan sisa dana bansos senilai Rp34,2 juta/rumah yang diperoleh warga dari Pemerintah Kota Solo. Sementara dana Rp21,4 juta telah dipakai untuk membeli tanah dan mengurus sertifikat.

Simak selengkapnya di: E-Paper Solopos.