Pangdam dan Kapolda Jateng Ikut Kirab 1 Sura di Keraton Solo

Pawang mengarahkan kebo bule keturunan Kyai Slamet saat kirab 1 Sura di Keraton Solo, Selasa (11/9 - 2018) malam. (Solopos/Nicolous Irawan)
12 September 2018 10:55 WIB Ivan Andimuhtarom Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Ribuan orang memadati halaman depan Kori Kamandungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Selasa (11/9/2018) malam. Ada anak kecil, remaja, dewasa, hingga orang tua tumpah ruah menunggu dimulainya Kirab 1 Sura Tahun Dal 1952 Jhe.

Dalam kirab tersebut, Keraton Solo mengarak tujuh ekor mahesa atau kerbau bule keturunan Kyai Slamet dan sekitar 19 pusaka Keraton. Warga antusias menonton dari jarak dekat tradisi setahun sekali itu.

Tujuh kerbau bule yang ikut dalam kirab adalah Sukro, Apon, Juminten, Mugi, Pahing, Jabu dan Siam. Sementara itu, sebelum memulai kirab, para abdi dalem dan para tamu bersiap di teras Kori Kamandungan. Mereka menunggu titah Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII untuk memulai kirab.

Sekitar pukul 23.50 WIB, kirab dimulai. Dua motor gede (moge) dan satu mobil patwal kepolisian bergerak perlahan melewati supit urang. Mereka membuka jalan bagi tujuh kerbau bule yang berjalan dengan ritme relatif cepat.

Pawang dan pengiring pawang mengikuti kerbau-kerbau tersebut sambil menghalau warga yang sebelumnya sudah menunggu di kanan-kiri jalan yang dilalui kirab untuk mengikuti para mahesa dari belakang.

Selanjutnya, rombongan pembawa pusaka Keraton berjalan satu per satu. Satu pusaka diiringi puluhan abdi dalem. Dalam kesempatan tersebut, Pangdam IV Diponegoro Mayjen Wuryanto dan Kapolda Jateng Irjen Pol. Condro Kirono turut serta dalam barisan pembawa pusaka Keraton.

Rute kirab malam itu dimulai dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menuju Supit Urang kemudian ke Gladag. Mereka lalu berbelok ke timur melewati Jl. Mayor Kusmanto.

Selanjutnya berbelok ke selatan lalu menyusuri Jl. Kapten Mulyadi, Jl. Veteran, Jl. Yos Sudarso, Jl. Slamet Riyadi kemudian kembali ke Keraton.

Tradisi Kirab 1 Sura di Keraton Solo didasarkan pada perhitungan kalender Jawa yang menggabungkan kelender Hijriah dan Tahun Saka. Sesuai kalender nasional, 1 Sura atau 1 Muharam 1440 H adalah Selasa (11/9/2018).

Jika mengacu penanggalan tersebut, tradisi kirab pusaka untuk menyambut malam pergantian Tahun Baru Islam seharusnya diadakan pada Senin (10/9/2018) malam.

Namun penentuan malam 1 Sura oleh Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat berbeda karena menggunakan penghitungan kalender Jawa. Sebab itu, kirab yang melibatkan kerbau bule tersebut dilakukan lebih lambat satu malam dibandingkan penanggalan 1 Sura yang ditetapkan pemerintah dalam kalender nasional.

“Tanggal 1 Sura tahun ini jatuh pada tanggal 11 atau hari Selasa Wage malam atau malam Rabu. Jadi kirabnya Selasa malam sampai Rabu pagi,” kata Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat K.G.P.H. Dipokusumo atau akrab disapa Gusti Dipo kepada wartawan, Minggu (9/9/2018).

Sementara itu, salah seorang warga Polokarto, Sukoharjo, Sri Lestari, 43, mengaku datang dengan bersepeda motor bersama kakaknya. Ia tiba di keraton sekitar pukul 19.00 WIB.

Tak ada maksud lain, kedatangannya adalah untuk ngalap berkah. Ia berhasil mengambil janur di area keraton yang rencananya ia taruh di ladangnya.

"Ini biar hasil pertanian bagus. Tiap 1 Sura, saya kemari mencari berkah," ungkapnya saat ditemui Solopos.com, Rabu (12/9/2018) dini hari.

Yati, 63, juga memiliki motivasi yang sama. Ia juga mengambil janur untuk penolak bala di rumahnya. "Semoga rumah selalu aman," terang perempuan yang kini tinggal di Juwiring, Klaten itu.