2018, Wonogiri Dilanda Kebakaran 2 Kali Lebih Sering Dibanding 2017

ilustrasi kebakaran. (Solopos/Whisnu Paksa)
12 September 2018 13:15 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Jumlah kasus kebakaran di Kabupaten Wonogiri meningkat dua kali lipat pada tahun ini dibanding tahun sebelumnya. Kecamatan Selogiri menempati urutan teratas dalam hal jumlah kebakaran tersebut.

Pada 2017 Selogiri juga menempati urutan pertama jumlah kebakaran terbanyak. Kebakaran di Selogiri didominasi kebakaran lahan dan hutan.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonogiri, Bambang Haryanto, saat ditemui Solopos.com di ruang kerjanya, pekan lalu, mengatakan jumlah kebakaran pada 2018 meningkat drastis dibandingkan 2017.

“Pada 2017, kebakaran baik lahan maupun bangunan ada 23 kasus sedangkan pada 2018 hingga saat ini [September] sudah terjadi 45 kasus kebakaran,” ujar Bambang Haryanto.

Menurutnya, melonjaknya jumlah kebakaran pada 2018 salah satu penyebabnya adalah kemarau panjang. Selain itu, kesadaran masyarakat untuk tidak membakar sampah terlebih di musim kemarau masih kurang.

Ia menanggap kebiasaan warga membakar sampah atau semak kering di bawah pohon tegakan untuk menjadikan pohon tumbuh subur tidak lah tepat. Hal itu justru membuat tanah rusak dan ekosistem juga rusak.

Berdasarkan data yang dihimpun Solopos.com, saat ini di Selogiri tercatat telah 12 kali terjadi kasus kebakaran. Kebakaran pertama terjadi pada dua bulan lalu di Desa Singodutan yakni lahan seluas 5 hektare.

Dari 12 kasus kebakaran, 11 di antaranya kebakaran lahan hutan dan satu di antaranya kebakaran bangunan penyimpan jerami. Total lebih dari 20 hektare lahan dan hutan di Kecamatan Selogiri telah terbakar tahun ini.

Tahun sebelumnya, Selogiri juga menempati urutan pertama dalam hal kebakaran. Tujuh kasus kebakaran tercatat dan seluruhnya merupakan kebakaran lahan dan hutan. Lima kasus di antaranya terjadi di hutan milik Perhutani.

Sekertaris Camat Selogiri, Toto Tri Mulyarto, mengatakan telah mengambil langkah untuk menanggulangi bencana kebakaran dengan menggiatkan sukarelawan tanggap bencana di seluruh desa Kecamatan Selogiri. Selain itu, dia juga telah mengirimkan surat imbauan mengenai dampak musim kemarau kepada perangkat desa dan diteruskan ke tingkat RT/RW.

“Memang angkanya tinggi karena kami selalu koordinasi dengan BPBD maupun Pemadam Kebakaran. Kasus sekecil apa pun kami koordinasikan dengan pihak terkait sehingga angkanya selalu update,” ujar Toto.

Menurutnya, masyarakat desa di Selogiri telah memiliki kesadaran dalam menanggulangi bencana kebakaran. Setiap terjadi kebakaran, masyarakat langsung mengambil langkah mengisolasi titik api sembari melapor ke BPBD.

Dia mengakui kebakaran di wilayahnya tidak selalu akibat faktor manusia melainkan faktor alam. Menurutnya, daun dan ranting ditambah dengan angin yang kencang kemudian saling bergesekan hingga akhirnya menimbulkan lokasi api.

Selogiri memiliki daerah rawan antara lain di Desa Jendi yang telah empat kali tercatat kasus kebakaran lahan dan Desa Gemantar terdapat ilalang dan lahan tebu yang cukup banyak dan kering saat musim kemarau.

Tokopedia