WGM Wonogiri Mengering, Saatnya Berziarah dan Nostalgia

Jembatan Pondok yang hanya muncul di Waduk Gajah Mungkur (WGM) saat kemarau. (Solopos/Ichsan Kholif Rahman)
12 September 2018 21:15 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, SOLO -- Tepat di selatan Pasar Wuryantoro, genangan Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri mengering. Di dasar waduk muncul konstruksi jembatan yang mengalir di atas genangan mirip sungai selebar 3 meter.

Jembatan itu berada di perbatasan antara Kelurahan Wuryantoro dan Desa Sumberejo, Kecamatan Wuryantoro. Panjang jembatan yang oleh masyarakat setempat disebut Jembatan Pondok itu mencapai 20 meter.

Jembatan Pondok sudah lebih dari sebulan muncul kembali. Di ujung jembatan, membentang tanah yang beberapa bagiannya diyakini merupakan sisa permukiman sebuah desa di masa lampau.

Hamparan tanah yang kering merekah dapat dilalui untuk menuju Kecamatan Eromoko. "Dahulunya di sini merupakan sebuah desa tapi warga sudah transimgrasi ke Sumatra,” ujar Darman, warga desa setempat, saat ditemui Solopos.com di lokasi pada Rabu (12/9/2018).

Ia menyebut ketika musim penghujan, air menggenangi kawasan itu hingga ketinggian 5 meter dari dasar jembatan. Beberapa warga Wuryantoro maupun luar kecamatan memanfaatkan momen tahunan ini untuk mencari ikan.

Salah satu seorang warga Dusun Wuryantoro, Sukasdi, mengaku lebih cepat melalui jalan yang kini muncul kembali untuk menuju Kecamatan Eromoko.

“Lebih cepat hanya melalui jalan itu tidak sampai 30 menit dengan berjalan santai untuk menuju ke Wuryantoro atau Eromoko. Kalau anak muda pasti lebih cepat namun harus berhati-hati karena masih basah. Kalau lewat jalan yang biasanya lumayan jauh,” ujarnya.

Setiap sore, warga berdatangan untuk mengabadikan momen ini. Hamparan luas sawah dan aliran sungai di bawah jembatan menjadi pemandangan yang memiliki kesan tersendiri.

Camat Wuryantoro, Purwadi Hardo Saputro, mengatakan Jembatan Pondok dapat dilalui untuk menuju Kecamatan Eromoko, tak hanya itu ia menyebut Jembatan Pondok memiliki sejarah panjang dan layak kerap didatangi warga yang ingin bernostalgia di sana.

“Warga Wuryantoro yang ikut transmigrasi rindu dengan kampung halaman yang ditinggalkan. Pada puncak musim kemarau mereka berwisata napak tilas tanah leluhur,” ujarnya.

Ia menambahkan napak tilas dilakukan dengan mengunjungi bekas kampung halaman yang ditenggelamkan saat pembangunan waduk dan muncul kembali saat musim kemarau. Mereka juga berziarah ke makam leluhur mereka yang muncul kembali saat air waduk surut.



Tokopedia