Koridor Jensud Solo Ditata, Rute BST Koridor 1 dan 3 Tak Berubah

Bus BST koridor 3 melaju di Jl. Jenderal Sudirman Solo, Kamis (13/9 - 2018) pagi. (Solopos/Irawan Sapto Adhi)
13 September 2018 12:40 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Dinas Perhubunga (Dishub) Solo tak mengubah rute perjalanan bus Batik Solo Trans (BST) koridor 1 maupun koridor 3 meski koridor Jl. Jenderal Sudirman (Jensud) sedang ditata.

Bus BST koridor 1 (Bandara Adi Soemarmo-Terminal Palur) maupun koridor 3 (Terminal Kartasura-Terminal Palur via Pasar Klewer) tetap bisa lewat Jl. Jenderal Sudirman.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, Kamis (13/9/2018) pagi, pelayanan bus BTS koridor 1 maupun koridor 3 cukup mengganggu arus lalu lintas di Jl. Jenderal Sudirman. Ketika bus menurunkan atau menaikkan penumpang di halte depan Balai Kota Solo maupun Halte Balai Kota barat Telkom Solo, arus lalu lintas otomatis terhenti.

Kendaraan roda empat maupon roda dua bakal kesulitan bahkan tak bisa menyalip bus BST yang berhenti karena sekarang hanya tersedia satu lajur jalan di masing-masing jalur Jl. Jenderal Sudirman.

Dishub terpaksa menutup bagian tengah Jl. Jenderal Sudirman ruas simpang Telkom-Bundaran Balai Kota untuk mendukung penataan koridor tersebut.

Kasi Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas Dishub Solo, Mudo Prayitno, membenarkan Dishub tak mengubah rute pelayanan bus BST koridor 1 dan koridor 3 saat ada proyek penggantian lapisan aspal Jl. Jenderal Sudirman dengan batu andesit oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Solo.

Dishub menganggap kepadatan arus lalu lintas di Jl. Jenderal Sudirman sementara terpantau tidak terlalu tinggi. Oleh sebab itu, Dishub masih melewatkan bus BST koridor 1 dan koridor 3 di Jl. Jenderal Sudirman.

Masyarakat masih diperkenankan naik atau turun bus BST di halte portabel di depan Balai Kota Solo maupun di halte permanen Balai Kota Solo (jalur timur).

"Bus BST masih kami lewatkan Jensud. Halte portabel kami pasang di depan Balai Kota untuk tempat berhenti bus BST dari arah selatan ke utara. Halte permanen sisi timur juga masih bisa digunakan karena kepadatan lalu lintas kami pantau tidak terlalu tinggi," kata Mudo saat dimintai konfirmasi Solopos.com terkait dampak penerapan manajemen rekayasa lalu lintas penataan koridor Jensud terhadap pelayanan bus BST, Kamis pagi.

Mudo menyampaikan alasan lain Dishub tak mengubah rute perjalanan bus BST koridor 1 maupun koridor 3 saat ada proyek penataan koridor Jensud, yakni banyaknya masyarakat yang ingin turun atau naik bus di halte Balai Kota Solo.

Namun, dia tidak bisa menjamin kebijakan itu bakal terus diberlakukan. Dishub ke depan tentu akan melakukan evaluasi penerapan manajemen rekayasa lalu lintas penataan koridor Jensud.

Mudo menyebut Dishub bisa saja memindah halte ataupun mengubah rute perjalanan bus BST jika dianggap perlu saat evaluasi. "Nanti kami evaluasi apakah [Jl. Jend. Sudirman] yang sisi timur juga membutuhkan halte portabel untuk dipasang di luar area proyek? Jika dibutuhkan, ya kami akan pasang halte portabel di tempat lain," jelas Mudo.

Seorang pengendara mobil asal Semarang, Choliq, 56, tak keberatan bus BST tetap dilewatkan Jl. Jenderal Sudirman saat ada proyek penataan koridor Jendsud. Dia menyebut kemacetan yang ditimbulkan bus BST saat menaikkan dan menurunkan penumpang sudah menjadi konsekuensi yang mesti diterima masyarakat dan pengendara.

Pejabat Pemprov Jateng tersebut menilai para pengguna kendaraan pribadilah yang mesti mengalah dengan mengambil rute lain jika tidak ingin mendapati kemacetan di Jl. Jenderal Sudirman.

"Itu proyek kan demi kebaikan bersama. Ya harus didukung. Kalau ada rekayasa lalu lintas, semuanya harus mematuhi dan menyadari itu. Apabila tidak ingin kena macet, ya masyarakat tinggal pilih jalan lain. Saya juga di Solo ini kena macet di mana-mana. Sebagian besar kemacetan itu saya lihat karena ada pelaksanaan proyek. Ya sudah, mau bagaimana lagi?" kata Choliq saat ditemui Solopos.com di Graha Soloraya, Kamis.