Bukaan Kawah Merapi ke Selatan-Tenggara, Balerante Klaten Waspada

Pelatihan sukarelawan penanggulangan bencana di aula PTPN X, Klaten, Rabu (12/9 - 2018). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
13 September 2018 07:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Bukaan kawah di puncak Gunung Merapi saat ini berada di sektor tenggara-selatan atau mengarah ke wilayah Sleman dan Klaten. Wilayah seperti Balerante menjadi prioritas pengawasan dan kewaspadaan.

Pejabat Staf Ahli Geologi Gunung Api Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Dewi Sri, mengatakan bukaan kawah memiliki peran besar soal arah luncuran itu berdasarkan sejarah letusan Merapi.

“Morfologi puncak Merapi sangat besar sumbangsihnya terhadap arah luncuran awan panas atau guguran lava pijar. Sebenarnya, sejak erupsi 2006 arah bukaan sudah ke selatan dan tenggara, masuk ke Sleman dan Klaten di hulu Kali Gendol dan Opak,” kata Dewi saat ditemui wartawan di sela pelatihan sukarelawan penanggulangan bencana di aula PTPN X, Jl Pemuda, Kecamatan Klaten Tengah, Rabu (12/9/2018).

Potensi jarak paling rawan diterjang guguran material jika terjadi erupsi, menurut Dewi, belum bisa diprediksi lantaran Merapi masih dalam tahap pembentukan kubah lava baru.

Hanya, ia memperkirakan guguran material mengarah ke selatan-tenggara mengikuti bentuk morfologi puncak Merapi. Material vulkanik meluncur melalui lembah sungai seperti Kali Gendol, Kali Opak, serta Kali Woro.

“Kawasan paling rawan saat ini terlalu diri untuk dipastikan karena masih fase pertumbuhan kubah lava baru. Kami mengimbau teman-teman di selatan dan tenggara tetap waspada menyikapi pertumbuhan kubah ke depannya,” ungkapnya.

Dewi menjelaskan sosialisasi terkait perkembangan kondisi Merapi terkini digencarkan. Sosialisasi diutamakan kepada warga di sisi selatan-tenggara Merapi seperti Desa Glagahjaro dan Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, DIY, serta Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten.

“Sosialisasi terus diadakan biar masyarakat tidak kaget. Untuk wilayah Klaten, Balerante diutamakan mendapat sosialisasi,” urai dia.

Dewi menjelaskan perkembangan terkini laju pertumbuhan pembentukan kubah lava baru tidak ada peningkatan signifikan. Berdasarkan data dari BPPTKG, volume kubah lava yakni 101.000 meter kubik dengan laju pertumbuhan masuk kategori rendah 4.300 meter kubik/hari dan posisi kubah lava masih stabil dari hasil pengamatan Rabu (12/9/2018).

Dewi mengatakan kategori pertumbuhan kubah lava masuk kategori rendah berdasarkan sejarah proses pertumbuhan kubah lava dari fase erupsi pada 1992 hingga 2006. Pertumbuhan kubah lava masuk kategori tinggi jika berada pada angka 20.000 meter kubik/hari.

Ia menjelaskan sejak beberapa hari lalu pertumbuhan kubah lava bisa dilihat dari lereng Merapi sisi selatan. Ketinggian kubah lava baru diperkirakan 33 meter dari permukaan kawah Merapi yang terbentuk dari hasil erupsi 2010.

Kemunculan kubah lava itu menandai fase erupsi magmatik Gunung Merapi dengan erupsi cenderung bersifat efusif atau erupsi yang dicirikan dengan pengeluaran magma menuju permukaan dengan cara meleleh atau penghancuran kubah lava.

Dewi meyakini erupsi eksplosif 2010 tak terulang dalam kurun waktu singkat. “Erupsi 2010 itu merupakan siklus panjang dari erupsi 1931 atau jaraknya sekitar 79 tahun. Pada erupsi 2010 itu semua faktor berasal dari internal Merapi. Justru saat itu tidak ada pembentukan kubah lava. Sekarang visualnya main, ada pertumbuhan kubah,” jelas dia.

Kepala BPBD Klaten, Bambang Giyanto, mengatakan persiapan terus dilakukan seiring peningkatan status Merapi dari normal ke waspada. Salah satunya melatih 50 sukarelawan dari desa-desa dalam konsep desa paseduluran.

Sukarelawan itu berasal dari 22 desa penerima dan tiga desa asal. Ketiga desa asal yang dimaksud yakni desa di daerah terdekat puncak Merapi Desa Tegalmulyo, Sidorejo, dan Balerante, Kecamatan Kemalang.

Sosialisasi juga terus dilakukan kepada warga di desa terdekat puncak Merapi terkait perkembangan terkini pembentukan kubah lava baru. Sosilaisasi tak hanya dilakukan ke warga di desa paling berpotensi terdampak material vulkanik yakni Desa Balerante.

“Kami tidak hanya ke Balerante. Warga di Sidorejo dan Tegalmulyo juga intensif kami berikan sosiaisasi karena juga berada di daerah rawan,” kata dia.

Tokopedia