Di Usia Senja, Tukang Ojek Ngargoyoso Semangat Belajar Bahasa Inggris

Sejumlah tukang ojek di Terminal Wisata Kemuning Ngargoyoso belajar Bahasa Inggris di pangkalan ojek, Rabu (12/9 - 2018). (Sri Sumi Handayani)
13 September 2018 20:53 WIB Sri Sumi Handayani Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR – "Good morning. Welcome at Kemuning," tutur lelaki bertopi abu-abu sembari mengulurkan tangan untuk berjabatan kepada Solopos.com, Rabu (12/9/2018).

Warna topinya senada dengan jaket beresleting depan yang dia kenakan. Lelaki yang lain juga mengenakan jaket seragam. Mereka juga menyambut dengan kalimat yang sama. "Welcome at Kemuning."

Mereka ini tukang ojek konvensional di kawasan wisata Ngargoyoso. Pangkalan ojek di sudut terminal wisata Ngargoyoso. Jaket warna abu-abu yang mereka kenakan adalah seragam ojek. Warga sekitar dapat mengenali tukang ojek lewat seragam yang dikenakan.

Saat Solopos.com dan sejumlah wartawan datang ke pangkalan, mereka sedang duduk menghadap ke jalan. Di hadapan mereka berdiri lelaki sebaya mengenakan jas biru dongker. Lelaki yang berdiri mengucapkan kata dalam Bahasa Inggris lalu penarik ojek menerjemahkan ke Bahasa Indonesia. Demikian sebaliknya.

Tetapi, konsentrasi mereka terpecah saat kami datang. Mereka tergopoh-gopoh dan berlomba mempraktikkan kemampuan Bahasa Inggris masing-masing. Beberapa orang mencoba menyapa menggunakan Bahasa Inggris. Hasilnya, Solopos.com gagal memahami maksud mereka.

Salah satu tukang ojek, Sutomo, 60, menepuk bahu temannya saat menyadari kalimat yang disampaikan rekannya kurang pas. Dia membenarkan kalimat rekannya. Hal itu membuat gelak tawa di antara rekan mereka. Penarik Ojekku Pater (pasar dan terminal) Kemuning rutin belajar Bahasa Inggris sejak bulan lalu.

Pada tembok pangkalan dipasang tulisan "Public transport camp, we can serve you in English". "Kurang lebih sudah enam kali pertemuan mereka diajari omong yang sederhana karena sudah tua semua. Ya cara menyapa, menawarkan jasa, dan tawar menawar," kata Sutomo.

Tiba-tiba dia terkekeh di sela-sela berbincang dengan Solopos.com. Katanya, dia teringat kejadian saat dulu sebelum mendapat pelajaran Bahasa Inggris dari Konsultan Pengajar House Keeping dan Komunikasi Pariwisata SMKN Ngargoyoso, Widodo. Obrolan dengan turis asing dan tawar menawar menggunakan bahasa isyarat maupun alat bantu lain.

"Dulu kayak orang bisu ketemu orang bisu. Mereka enggak bisa Bahasa Indonesia, kami enggak ngerti bahasa mereka. Pakai bahasa isyarat. Kadang di tengah obrolan, kami sama-sama tertawa karena tidak paham atau enggak nyambung. Alhamdulillah sekarang lebih percaya diri kalau ngobrol dengan turis," ujar dia.

Sejumlah turis mancanegara dari Jepang, Belanda, Prancis, USA, Inggris, Korea Selatan, dan lain-lain pernah memanfaatkan jasa mereka. Dahulu untuk menunjukkan objek wisata yang ingin dituju, turis menunjukkan peta. Saat tawar menawar, mereka akan mengeluarkan kalkulator.

"Sekarang bisa. Where you go? Ceto temple one hundred thousand. Kalau mereka bilang expensive. Kami jawab the way to high. Kalau menawar Rp50.000, kami minta naikkan bilang more, more," cerita dia.

Solopos.com menyadari semangat mereka belajar Bahasa Inggris di usia senja. Minimal, mereka paham maksud turis asing yang membutuhkan jasa. Mereka rutin belajar setiap pasaran Pon dan Legi di pangkalan. Sekali pertemuan maksimal dua jam. Penarik ojek yang datang 12-13 orang dari total anggota 25 orang.

"Kalau lebih dari dua jam, ada yang langsung ke warung beli bodrex [obat sakit kepala]. Sebetulnya memang ini keinginan kami belajar karena banyak turis datang tetapi enggak bisa ngomong. Ini belajar sesuai kemampuan wong sudah tua. Setidaknya setiap belajar nambah 2-3 kata baru," tutur dia.

Mereka mengaku pernah mengajukan permohonan mendapat pelatihan Bahasa Inggris kepada Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Karanganyar. Rata-rata turis asing datang ke terminal wisata Ngargoyoso untuk ke Candi Ceto, Candi Sukuh, Tawangmangu, Sarangan, jalan-jalan keluar dan masuk kampung. Setelah belajar Bahasa Inggris, pemasukan mereka meningkat karena bisa tawar menawar. "Ke Sarangan Rp200.000. Sebelumnya ya bingung. Sekarang bisa tawar menawar," ungkap dia.

Konsultan Pengajar House Keeping dan Komunikasi Pariwisata SMK N Ngargoyoso, Widodo, memandu tukang ojek mengucapkan kalimat sederhana, seperti good morning, good afternoon, good evening, dan good night. Widodo juga mengajarkan kalimat tawar menawar dan cara menjelaskan kondisi medan di sekitar objek wisata.

"Kata dan kalimat paling umum saat bercakap-cakap antara pengguna ojek dan penumpang. Proses belajar dikemas efektif. Mereka tidak muda lagi, tapi antusias menghafal kalimat dan kata," tutur Widodo saat ditemui wartawan seusai mengajar.

Widodo juga mengajarkan mereka agar berpenampilan rapi dan selalu tersenyum saat melayani calon pengguna jasa. Dia juga menyarankan penarik ojek tidak hanya menawarkan satu destinasi wisata. Mereka harus kreatif dengan menawarkan destinasi lain. Selain Widodo, ada dua rekannya yang membantu mengajar Bahasa Inggris. Status pengajar itu sukarela.

"Enggak memungut biaya. Ini kan bagian dari upaya kami mendukung pariwisata di Ngargoyoso. Senang bisa bermanfaat untuk orang lain. Saya apresiasi semangat belajar mereka," tutur dia.

Sementara itu, Kepala SMK N Ngargoyoso, Sri Eka Lelana, mengatakan pendampingan kepada penarik ojek merupakan bentuk kepedulian institusi pendidikan terhadap pariwisata di Ngargoyoso. "Bisa dibilang ini CSR sekolah. Belakangan ini banyak turis asing ke Ngargoyoso. Alhamdulilah, respons penarik ojek bagus. Mereka mau belajar Bahasa Inggris," ujar dia.

Tokopedia