Bukan Dianiaya, Ini Penyebab Kematian Jaka Satpol PP Solo

Jaka Setiana saat bertugas sebagai anggota Satpol PP Solo. (Istimewa)
14 September 2018 18:15 WIB Ivan Andimuhtarom Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Polresta Surakarta memastikan penyebab kematian Anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Solo, Jaka Setiana, pada Kamis (13/9/2018) dini hari bukan karena dianiaya atau dibunuh.

Kesimpulan itu didapatkan kepolisian setelah pemeriksaan kepada keluarga dan lokasi penemuan jenazah Kepala Seksi (Kasi) Pembinaan dan Penyuluhan Bidang Penegakan Perundang-undangan Daerah Satpol PP itu.

Jaka ditemukan meninggal dunia dengan tubuh penuh luka, Kamis dini hari. Jasad Jaka ditemukan di rumahnya, RT 005/RW009 Minapadi, Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari, Solo.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, Jaka yang dikenal kerap menertibkan pedagang kaki lima (PKL) serta hunian liar ini kali pertama ditemukan istrinya, Siti Munawaroh, pada Kamis pukul 02.00 WIB.

Saat ditemukan Jaka dalam kondisi tergeletak di lantai dekat teras kamarnya di lantai II. Mengetahui kondisi Jaka penuh luka dan darah di bagian tubuhnya, Munawaroh memanggil kakak kandungnya Suyamto yang berada di lantai I. Mereka kemudian membaringkan tubuh Jaka ke tempat tidur.

Kasat Reskrim Polresta Solo, Kompol Fadli, menyatakan Jaka meninggal secara wajar. Padahal, menurut kesaksian anak Jaka, Adilla Scarlleta, 15, saat ditemukan itu, kondisi Jaka penuh luka dan darah.

Luka itu ada di bagian pelipis mata kiri, belakang telinga bagian kiri, tangan kanan dan kiri, serta kaki. Selain itu ada luka mirip bekas benda tumpul di kepala. ”Darahnya ada di mana-mana,” kata Adilla.

"Ya meninggalnya wajar, kecuali ada pidananya baru bisa kami jelaskan," ujar Kompol Fadli melalui pesan Whatsapp kepada Solopos.com, Jumat (14/9/2018).

Ia menolak kasus kematian itu disebut pembunuhan. Ia bahkan mempertanyakan alasan yang menyatakan kematian Jaka disebabkan oleh pembunuhan.

"Kalau cuma dari asumsi kan enggak berdasar. Yang bisa ya berdasarkan pembuktian ilmiah dari dokter itu penyebabnya apa? Contohnya orang yang pembuluh darahnya pecah pasti darah keluar dari hidung dan tempat lain dan jenazah yang sudah lama akan timbul lebam seperti luka dan itu bukan berarti dianiaya, " terangnya melalui Whatsapp tersebut.

Lebih lanjut, berdasarkan keterangan yang diperoleh polisi di lapangan dari keluarga yang memandikan jenazah dan lokasi penemuan jenazah, kematian Jaka ia sebut wajar.

"Intinya meninggalnya wajar bukan karena di bunuh," terangnya.

Lepas Tugas

Polisi menghentikan penyelidikan kematian Jaka yang sebelumnya dianggap tidak wajar. Penghentian pemeriksaan atas kehendak keluarga. ”Keluarga sudah mengikhlaskan dan menganggap wajar kematian Jaka. Mereka meminta kasus ini tidak dilanjutkan. Makanya proses kami hentikan,” kata Kompol Fadli sehari sebelumnya.

Hal senada disampaikan Kepala Satpol Solo Sutarjo. Dia memastikan Jaka Setiana meninggal karena sakit. Pemkot pun tidak akan membawa kasus kematian Jaka ke ranah hukum.

"Jaka meninggal dunia dalam keadaan lepas tugas. Tidak ada surat perintah giat Kirab 1 Sura Keraton atas nama Jaka," kata ketika berbincang dengan wartawan, Jumat.

Dengan pertimbangan itulah Sutarja memastikan kematian anak buahnya itu tidak ada kaitannya dengan lembaga maupun pemerintahan. Sutarjo mengaku dekat dengan Jaka lantaran sama-sama alumni Diklat 1997 sebagai anggota Satpol PP.

Saat ini Satpol PP tengah menyiapkan berkas administratif, seperti kejelasan uang pensiun dan lainnya. "Sekarang ini posisi jabatan Pak Jaka diampu dulu oleh Kabidnya," katanya.

Penggantian dan pengisian posisi jabatan tersebut secara definitif masih menunggu mutasi Pemkot. Hal itupun tanahnya berada di tangan bagian kepegawaian Pemkot. Yang jelas pejabat bersangkutan mampu di bidangnya. (Indah Septiyaning W.)

Tokopedia