Bisnis Kian Lesu, 80 Taksi Solo Diubah Jadi Mobil Pribadi

ilustrasi taksi. (Solopos/Dok)
14 September 2018 21:15 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Dinas Perhubungan (Dishub) Solo selama Juni 2017 hingga pertengahan September 2018 ini menerima sedikitnya 80 permohonan rekomendasi perubahan status kendaraan angkutan umum taksi (pelat kuning) menjadi kendaraan pribadi (pelat hitam).

Kasi Angkutan Orang Dishub Solo, Dwi Sugiyarso, menduga banyaknya permohonan perubahan status pelat kuning taksi menjadi pelat hitam disebabkan bisnis layanan taksi di Kota Bengawan yang terus turun.

Bisnis layanan taksi reguler terkikis layanan taksi online. Dia meyakini kondisi serupa juga terjadi di banyak kota lain di Indonesia yang ada layanan taksi online.

Dwi menuturkan Dishub tak berhak menolak penerbitan surat rekomendasi perubahan status pelat kuning menjadi pelat hitam apabila manajemen perusahaan taksi telah melengkapi semua persyaratan.

"Saya rasa penyebabnya memang bisnis taksi reguler yang sudah menurun pendapatannya atau omzetnya. Manajemen atau perusahaan akhirnya mengajukan permohonan perubahan status pelat kuning menjadi pelat hitam ke Kantor Samsat," kata Dwi saat diwawancarai Solopos.com, Jumat (14/9/2018).

Dishub tak berkepentingan lagi terhadap operasional mobil taksi yang telah diubah menjadi pelat hitam. Menurut dia, manajemen perusahan taksi reguler bebas memanfaatkan mobil tersebut.

Mobil taksi yang telah diubah menjadi kendaraan pelat hitam boleh saja dijual atau bahkan dipakai untuk operasional taksi online. Yang jelas, kata Dwi, jumlah layanan taksi reguler di Solo otomatis berkurang seiring dengan keputusan manajemen perusahan taksi yang mengubah status sebagian armada mobil taksi mereka menjadi kendaraan bukan umum.

"Perubahan status pelat kuning menjadi pelat hitam harus atas sepengetahuan manajamen perusahaan taksi. Tidak bisa pengajuan atas nama pribadi sopir atau siapa pun. Semua yang datang ke kantor Dishub untuk mengurus surat rekomendasi perubahan status pelat kuning menjadi pelat hitam mesti membawa surat pelepasan dari badan usaha atau perusahaan," jelas Dwi.

Dwi menyebut hampir semua perusahaan taksi di Solo mengajukan permohonan surat rekomendasi perubahan status pelat kuning menjadi pelat hitam, mulai dari Gelora Taksi, Solo Central Taksi, Mahkota Taksi, hingga Kosti.

Dia enggan membeberkan secara detail jumlah mobil yang telah diajukan masing-masing perusahaan taksi untuk diubah menjadi pelat hitam.

"Sementara kami melihat layanan taksi di Solo masih aman. Artinya, pengajuan perubahan status taksi pelat kuning menjadi pelat hitam oleh beberapa perusahan taksi reguler belum begitu mempengaruhi ketersediaan layanan taksi di Solo. Apalagi kami belum lama ini juga baru menerima pengajuan izin operasional resmi taksi online dari koperasi TRS [Trans Roda Sejati], meski jumlahnya belum seberapa," ujar Dwi.

Dwi memastikan siapa saja boleh mengajukan izin operasional taksi baru di Solo. Apalagi jumlahnya sekarang berkurang karena beberapa perusahaan taksi mengubah status taksi pelat kuning menjadi kendaraan pribadi.

Yang jelas Dishub akan membatasi kuota layanan taksi di Kota Bengawan hanya 800 unit. Dia tak menampik krisis yang dihadapi perusahan taksi reguler sekarang bisa dilihat juga dari proses peremajaan mobil taksi.

Menurut Dwi, sejak pertengahan 2017 hingga sekarang baru Kosti yang melakukan peremajaan beberapa mobil taksi mereka. Sementara perusahaan taksi lain belum mengganti mobil lama dengan mobil baru.

"Baru kosti yang mengajukan peremajaan. Umur taksi kan maksimal 10 tahun. Dulu usia mobil baru 6 tahun sampai 7 tahun, sudah banyak yang diremajakan. Tapi sekarang banyak mobil taksi yang sudah 7 tahun dipakai tapi belum diremajakan. Peremajaan ini penting untuk meningkatkan kenyaman bagi para penumpang," jelah Dwi.

General Manager (GM) PT Gelora Taksi, Taka Ditya, mengatakan akibat jumlah taksi online yang tak dibatasi seperti sekarang, omzet pengemudi maupun pengusaha taksi reguler menurun. Dia tak memungkiri penurunan omzet tersebut pada ujungnya memaksa pengusaha taksi mengurangi armada mereka.

Penurunan omzet juga menghambat proses peremajaan taksi. Pengusaha taksi terpaksa terus memanfaatkan armada lama karena tak mampu menyediakan kendaraan baru.

Maka dari itu pada akhirnya, kata Taka, masyarakat juga yang dirugikan atas kebijakan pemerintah yang tak bisa membendung jumlah layanan taksi online.



Tokopedia