Pensiunan Polisi Klaten Ini Punya 300 Radio Kuno

Sutrisno, 66, menunjukkan koleksi radio kuno di rumahnya Kampung Tijayan, Kelurahan/Kecamatan Jatinom, Klaten, Rabu (12/9 - 2018). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
14 September 2018 13:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Lagu berjudul Genjer-Genjer mengalun setelah Sutrisno, 66, meletakkan piringan hitam ke vinyl player di rumahnya Kampung Tijayan, Kelurahan/Kecamatan Jatinom, Klaten, Rabu (12/9/2018). 

Lagu lawas yang dinyanyikan Lilis Suryani itu mengiringi langkah Sutrisno menuju lemari besar di salah satu sudut rumahnya. Siang itu, pensiunan polisi tersebut menunjukkan beragam koleksi radio kuno hingga piringan hitam yang tertata rapi di  lemari berpintu kaca. 

Piringan hitam buatan 1963 ia putar untuk menunjukkan koleksi-koleksinya masih terawat. Dia lalu menunjukkan tumpukan radio di dalam lemari. 

Sesekali ia memutar volume serta tuning radio-radio buatan 1960-an dengan sumber energi kebanyakan dari baterai. Semuanya masih berfungsi dengan suara yang relatif jernih.

Sutrisno mulai mengoleksi beragam radio kuno itu sejak 2005. Saat itu, ia masih aktif berdinas sebagai polisi di Polresta Surakarta sebelum memasuki masa pensiun pada 2010. 

Pasar klithikan serta barang antik di wilayah Solo hingga Jogja akrab ia sambangi untuk memburu beragam barang kuno. Bapak tiga anak dan kakek dari lima cucu itu mengoleksi radio kuno karena terinspirasi ayahnya, Gito Darsono, yang bekerja sebagai pedagang. 

Sutrisno mengisahkan pada 1962 ayahnya memiliki satu radio tabung dengan sumber energi 75 baterai yang menjadi pusat hiburan warga. Saban Sabtu malam, rumahnya menjadi tempat berkumpul warga untuk mendengarkan siaran wayang semalam suntuk. 

Saat itu, Sutrisno masih duduk di kelas V SD. “Gagasannya saat itu membeli radio untuk menyenangkan banyak orang. Saya ingin sejarah itu jangan sampai hilang. Akhirnya melekat dengan sendirinya dan meneruskan kesenangan mengoleksi radio kuno,” kata Sutrisno saat ditemui wartawan di rumahnya, Rabu.

Koleksi radio kuno Sutrisno kini mencapai 300 unit dengan onderdil masih asli. Sementara koleksi piringan hitam mencapai 350 unit yang mulai ia kumpulkan sejak 2006. 

Untuk perawatannya, Sutrisno mengaku tak terlalu sulit. Sesekali ia memutar satu per satu radio dan membersihkan setiap bagian agar mesin kuno di dalamnya tidak karatan. 

Jika ada koleksi yang rusak, ia langsung membawa ke salah satu temannya yang bekerja sebagai tukang servis radio. Sementara piringan hitam rutin ia keluarkan dari wadahnya serta diputar agar tak berjamur. 

Awalnya Sutrisno hanya berkeinginan mengumpulkan radio-radio kuno serta piringan hitam sebagai koleksi pribadi. Namun, banyaknya orang yang berdatangan membeli koleksi-koleksi itu membuat Sutrisno merelakan sebagian koleksi terutama radio tabung buatan 1960-an ke tangan orang lain. 

“Dulu punya radio tabung itu sampai 30 unit. Sekarang sudah habis dibeli orang,” ungkapnya.

Ia pun tak menyangka mengoleksi barang kuno bisa mendatangkan penghasilan. Soal harga koleksi radio kuno yang masih ia simpan jika ada yang berminat, Sutrisno menjualnya dengan harga Rp200.000-Rp600.000. Sementara koleksi piringan hitam dihargai Rp200.000-Rp500.000.

Meski siap merelakan barang koleksinya dibeli orang, Sutrisno mengaku tak seluruh barang ia jual. Salah satunya pengeras suara buatan 1963 warisan ayahnya. Begitu pula dengan piringan hitam album Lilis Suryani yang salah satu lagunya berjudul Genjer-Genjer. 

Awalnya ia memiliki empat piringan hitam album Lilis Suryani yang didapatkan dari para pedagang di wilayah Jogja sejak mulai mengoleksi barang kuno. Namun, dari empat koleksi itu dua koleksi album sudah dibeli orang seharga Rp450.000 dan Rp500.000.

Alasannya tidak menjual koleksi album tersebut lantaran nilai kelangkaannya. Seperti diketahui, lagu Genjer-Genjer sempat dilarang dinyanyikan pada masa Orde Baru lantaran dikaitkan dengan komunis. 

“Koleksi ini termasuk langka. Banyak yang memiliki koleksi piringan hitam lagu Genjer-genjer yang akhirnya dimusnahkan. Namun, masih ada yang menyimpan. Saya mendapatkannya ketika mendatangi pedagang di wilayah Jogja,” jelas Sutrisno.