Warga Pulosari Kebakkramat Karanganyar Kelola Sampah Bernilai Ekonomis

Warga Dukuh Dadagan, Desa Pulosari, Kecamatan Kebakkramat, menabung sampah ke Sub Bank Sampah Dadagan, Selasa (28/8 - 2018). (Solopos/Sri Sumi Handayani)
14 September 2018 12:00 WIB Sri Sumi Handayani Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR – Perempuan setengah baya membawa tas karung plastik berisi kertas, kardus, botol plastik, botol kaca, dan barang lain. Dia antre di dekat timbangan gantung. Warga Dukuh Dadagan, Lasmini, menyerahkan tiga tas karung plastik.

Si penimbang, Mai Astri, mengecek setiap tas. Dia memastikan barang di setiap tas isinya seragam. Mai mencantolkan tali tas karung plastik pada timbangan lalu mencatat pada buku tulis. Begitu hingga seluruh tas karung plastik ditimbang.

"Kertas 11 kilogram, plastik 3,5 kilogram, seng 0,2 kilogram," tutur dia sembari mencatat.

Selesai menimbang, Mai dibantu Sumarmi mengeluarkan barang dari tas, memilah, dan mengumpulkan sesuai jenisnya. Kertas putih dipisahkan dari buram. Botol kaca dipisahkan dari botol plastik. Kardus dijadikan satu. Begitu aktivitas menabung sampah di Sub Bank Sampah Dadagan, Pulosari, Kebakkramat, Karanganyar, Selasa (28/8/2018). Sub Bank sampah Dadagan buka setiap Selasa pukul 07.00 WIB-10.00 WIB.

Mai, Sumarmi, dibantu Suwarno dan Parwoto. Mereka pengurus Sub Bank Sampah Dukuh Dadagan sejak buka kali pertama empat bulan lalu. Total nasabah 110 orang atau setengah dari total warga empat RT, yakni RT 001-004. Tetapi yang datang tidak sebanyak itu. "Kadang-kadang 40 orang. Lebih bisa 60 orang. Pernah 100 orang," tutur Mai sembari mengecek buku catatan.

Lasmini menjadi salah satu nasabah sejak program pengelolaan sampah lewat bank sampah dicetuskan di Dusun Karangkidul enam bulan lalu. Awalnya dia menabung di bank sampah induk. Dia memutuskan pindah ke Sub Bank Sampah Dadagan karena dekat rumah. Antusiasme menabung karena ingin membantu mengurangi sampah di lingkungannya.

"Biasanya berserakan di belakang rumah. Ini dibawa ke bank sampah jadi berkurang. Hla laku dijual otomatis nambah penghasilan. Lumayan bikin semangat nabung," tutur dia.

Lasmini sebagai istri Kepala Desa Pulosari mendukung pengelolaan sampah dengan membantu menyosialisasikan saat pertemuan PKK, arisan RT, dan lain-lain. "Saya bantu sosialisasi. Harapan saya ke depan program ini bisa membantu ekonomi keluarga," tutur dia.

Ketua Sub Bank Sampah Dadagan, Parwoto, menuturkan belum semua warga menabung ke bank sampah. Salah satu penyebab adalah budaya membakar sampah. Tetapi, lelaki yang menjadi Ketua RT 003 itu memiliki cara mengundang warga. Salah satunya melalui pengeras suara di tempat ibadah.

Pengelolaan bank sampah menggunakan prinsip one day clean. Sampah di sub bank sampah harus sudah diangkut ke bank sampah induk jam 12.00 WIB.

Ambil Tabungan
Hal senada disampaikan Ketua Sub Bank Sampah Dukuh Karangkidul, Suyono. Sub bank sampah di Karangkidul mengelola sampah warga empat RT, yakni RT 005-008. Total nasabah 100 orang atau setengah dari total warga empat RT. Pengumpulan sampah di Sub Bank Sampah Karangkidul setiap Senin pekan pertama di rumah Suyono dan pekan ketiga di rumah Giyanti.

Selain Suyono dan Giyanti, pengurus Sub Bank Sampah Karangkidul yang lain, Sri Rahayu akrab disapa Yayuk dan Roni.

Setiap nasabah dapat mengambil tabungan penjualan sampah apabila saldo minimal Rp200.000. Tetapi, pada kondisi darurat, nasabah dapat mencairkan tabungan. "Kan bermanfaat untuk celengan. Kebutuhan mendesak sewaktu-waktu bisa ambil tabungan," ujar dia.

Pengurus Yayasan Harmoni, Nining Solihah Muktamar, menyampaikan bank sampah program Yayasan Harmoni berkaitan pengelolaan sampah. Dusun Karangkidul memiliki dua sub bank sampah di Dadagan dan Karangkidul. Semuanya dikelola warga. Bank sampah diharapkan menjadi salah satu solusi pengelolaan sampah bernilai ekonomi.

Tokopedia