Perundungan Berulang Siswa SMP di Wonogiri, Polisi Terpaksa Turun Tangan

Belasan siswa SMP Gajah Mungkur 11 Pracimantoro, Wonogiri dibina aparat Polsek Pracimantoro di Mapolsek setempat, Kamis (13/9/2018). (Istimewa - Humas Polres Wonogiri)
14 September 2018 20:50 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI—Ada pemandangan berbeda di Mapolsek Pracimantoro, Wonogiri, Kamis (13/9/2018). Sebanyak 16 siswa SMP diminta push up. Setelah itu mereka diberi pembinaan oleh aparat setempat selama 30 menit.

Polisi meminta mereka tak memukuli adik kelas lagi. Hari itu polisi membina mereka cukup keras, sehingga tak sedikit dari mereka menangis.

Polisi sampai harus mengatakan akan mengurung mereka di Mapolsek sampai beberapa jam dan mendatangkan orang tua mereka. Anak-anak lelaki itu pun merengek meminta polisi tak melakukannya. Mereka mengaku sudah kapok dan berjanji tak nakal lagi. Janji itu dituangkan dalam surat pernyataan.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, Jumat (14/9/2019), para remaja itu adalah siswa kelas VIII dan IX SMP Gajah Mungkur 11 Pracimantoro. Polisi turun tangan membina mereka secara khusus karena kenakalan mereka dinilai sudah mengkhawatirkan.

Menurut Kapolsek Pracimantoro, AKP Krisyanto, mereka dibina atas permintaan sekolah. Kamis itu, mereka memukuli sejumlah siswa kelas VII yang tak sepaham dengan mereka.

Kapolsek menyebut kenakalan mereka sudah kelewat batas, karena bertindak seperti bukan anak-anak. Dia mencontohkan, anak belasan tahun tersebut meminta setoran rokok kepada siswa kelas VII secara berkala. Jika tak mau memberi, mereka dirundung secara fisik.

Peristiwa seperti itu terjadi tiga hingga empat kali selama Tahun Ajaran 2018/2019 bergulir sejak Juli lalu.

Bahkan, anak-anak nakal itu merekam menggunakan kamera telepon seluler (ponsel) saat perundungan terjadi ketika jam istirahat di salah satu ruang kelas.

Selain peristiwa pemukulan, video berdurasi lebih kurang dua menit itu merekam sejumlah siswa yang merokok. Pihak sekolah sejak awal membina agar mereka tak nakal.

Namun, pihak sekolah merasa tak sanggup menangani masalah anak-anak nakal itu karena kewalahan, sehingga meminta polisi turun tangan.

“Rekaman videonya sudah dihapus. Perbuatan mereka ini seperti bukan perbuatan anak-anak. Video itu merekam kejadian saat siswa kelas IX memukul dan menendang siswa kelas VII. Ada juga siswa kelas VIII yang ikut memukul. Ada pula yang keplok-keplok [menyoraki]. Pelaku-pelaku itulah yang kami bina di Mapolsek,” kata Kapolsek mewakili Kapolres Wonogiri, AKBP Robertho Pardede.

Dia berpandangan pembinaan khusus kepada mereka perlu dilakukan. Jika tidak, kenakalan mereka bisa semakin menjadi. Perbuatan mereka membuat siswa kelas VII yang dipukuli takut. Jika perbuatan tak menyenangkan terus dialami korban, Kapolsek khawatir hal itu bakal menganggu psikologi mereka.

“Sebagian pelaku, orang tuanya merantau,” ulas Kapolsek.

Dia sudah mewanti-wanti para pelaku agar tak nakal dan patuh kepada orang tua dan para guru. Jika nakal lagi, polisi tak segan menindak lebih tegas. Kapolsek menyebut permasalahan tersebut sudah selesai. Korban dan wali mereka sudah memaafkan.

Camat Pracimantoro, Warsito, menyampaikan keprihatinannya. Dia mengaku kaget saat mendapat informasi ada belasan siswa SMP yang nakal sampai harus dibina khusus oleh polisi. Dia berharap masalah bisa segera diatasi.

Sementara itu, Kepala SMP Gajah Mungkur 11 Pracimantoro, Sardiyo, membantah terjadi perundungan siswa kelas VIII dan IX terhadap siswa kelas VII di sekolahnya.

Dorong-dorongan

Menurut dia siswanya terkendali dan setiap ada masalah bisa dirampungkan dengan baik oleh Guru Bimbingan Konseling (BK). Kendati demikian, dia tak menampik beberapa waktu lalu ada siswa yang berkelahi.

Tetapi siswa yang terlibat hanya empat orang, bukan 16 orang. Atas hal itu dia meminta polisi membina seluruh siswa agar mematuhi peraturan sekolah dan lebih disiplin. Langkah itu sebagai upaya antisipasi supaya kejadian yang sama tidak terulang.

Menurut dia sekolah yang dipimpinnya sering bekerja sama polisi, puskesmas, Kantor Kemenag, dan lainnya dalam membina dan menyuluh siswa. Dia menganggap kerja sama seperti itu sudah biasa.

“Kalau sampai kami disebut angkat tangan [menyerah] ya enggak lah. Siswa kami sebanyak 95 anak [tiga rombel, masing-masing tingkatan satu rombel] rukun-rukun, semua terkendali. Kalau ada yang dorong-dorongan sudah biasa lah. Guru BK selalu bisa menyelesaikan masalah dengan baik. Tadi beredar kabar ada 16 siswa kami berkelahi, saya juga kaget. Yang jelas SMP kami baik-baik saja. Kejadiannya enggak seheboh kabar yang beredar,” ucap Sardiyo.

Tokopedia