Ekowisata Bukit Tugurejo Bayat Suguhkan Pemandangan Lanskap Klaten

Warga melewati jalur menuju kawasan Ekowisata Terpadu Dukuh Tugurejo di Dukuh Tugurejo, Desa Wiro, Kecamatan Bayat, Klaten, Jumat (14/9 - 2018). (Solopos/Cahyadi Kurniawan)
15 September 2018 17:00 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com KLATEN -- Pemerintah Desa (Pemdes) Wiro, Kecamatan Bayat,  Klaten, melirik keberadaan bukit milik Perhutani di wilayah setempat sebagai salah satu tujuan wisata.

Bukit dengan ketinggian 200 mdpl itu bakal dikembangkan menjadi destinasi ekowisata menyajikan pemandangan lanskap Kota Klaten dari Desa Wiro.

Sejumlah persiapan digelar meliputi pembangunan insfrastruktur untuk membuka akses ke puncak bukit. Tahun ini, Pemdes Wiro mengalokasikan dana Rp130 juta untuk membangun jalan beton menuju bukit berjarak sekitar satu kilometer dari Balai Desa Wiro.

“Kami buatkan gardu pandang, kami bersihkan semak-semak liar yang mengganggu. Harusnya Lebaran kemarin peluncuran tapi masih terkendala dana untuk promosi,” kata Kepala Desa Wiro, Agus Riyadi, saat ditemui solopos.com di kantornya, Jumat (14/9/2018).

Ia menjelaskan kawasan itu menurut rencana akan diberi nama Ekowisata Terpadu Dukuh Tugurejo karena berlokasi di Dukuh Tugurejo, Desa Wiro, Kecamatan Bayat.

Di sana, selain untuk menikmati pemandangan alam dari puncak bukit, lokasi itu juga terdapat situs-situs kuno seperti tugu batas wilayah zaman kerajaan dahulu. “Nanti kami kembangkan lagi beberapa gazebo dan lokasi-lokasi untuk bersantai pengunjung,” imbuh dia.

Tak hanya itu, di kawasan itu juga kerap digelar perkemahan gerakan kepanduan atau ajang off road. Bukit itu juga menjadi ajang trabas pehobi motor trail.

“Di sana lokasinya cukup menantang untuk penggemar off road dan motor trail. Di puncak bukit juga beberapa komunitas dan lembaga pernah menggelar pertemuan di sana,” terang Kades.

Bukit yang dikelola Pemdes itu merupakan bukit milik Perhutani seluas sekitar 10 hektare. Agus menargetkan Ekowisata Terpadu Dukuh Tugurejo bakal menggelar soft launching pada akhir tahun ini.

“Kami masih butuh pembenahan sarana dan prasana pendukung untuk istirahat atau bersantai. Saat ini, dana untuk pengembangan wisata masih minim karena kebanyakan dialokasikan untuk infrastruktur. Kami juga harus membersihkan semak-semak yang terus tumbuh,” harap dia.