Jembatan Gantung Dibangun di Jalur Evakuasi Klakah Boyolali

Jembatan gantung pengganti jembatan bambu di Dukuh Bangunsari Desa Klakah, Selo, Boyolali, hampir selesai, Sabtu (15/9 - 2018). (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
16 September 2018 11:20 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Jembatan gantung dibangun menggantikan jembatan darurat berbahan bambu di Kali Juweh, Dukuh Bangunsari, Desa Klakah, Selo, Boyolali. Jembatan ini berada di jalur evakuasi utama bagi 900 keluarga.

Warga dari tiga dukuh itu harus melewati jembatan tersebut untuk menuju lokasi pengungsian di Desa Klakah atau Desa Jrakah jika terjadi bahaya letusan Gunung Merapi. Ketiga dukuh itu adalah Dukuh Bangunsari, Bakalan, dan Sumber.

Jembatan yang pendanaan dan pengerjaannya dilakukan organisasi nirlaba Vertical Rescue Indonesia (VRI), komunitas trail Patriot, dan dibantu swadaya masyarakat setempat itu dimulai sekitar 10 hari lalu dan selesai Sabtu (15/9/2018).

Jembatan gantung dibangun menggunakan teknik-teknik yang lazim dalam vertical rescue mengandalkan kabel baja (sling) dan tanpa material semen.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, Sabtu, jembatan sepanjang 24 meter (terhitung dari gapura di kedua bibir jembatan) itu sudah hampir selesai. Sling utama yang menjinjing beban pelat logam lantai jembatan sudah terpasang.

Lima anggota VRI yang bertugas dalam proyek ini terlihat merampungkan bagian-bagian tertentu seperti penguatan baut sling dan pembuatan landasan di kedua bibir jembatan.

Wahyu Hidayat, koordinator lapangan dari VRI untuk proyek ini, mengatakan jembatan gantung selebar 1,2 meter ini jauh lebih kuat dibandingkan jembatan bambu yang dipakai warga selama ini. Meski demikian, demi menjaga kekuatan jembatan, VRI merekomendasikan agar jembatan hanya dilalui maksimal tiga orang dalam sekali penyeberangan.

“Maksimal tiga orang, jadi kalau papasan, dua orang dari satu sisi, sisi lain hanya satu orang saja,” ujarnya saat ditemui di lokasi.

Dia mengatakan jembatan gantung ini juga boleh dilalui kendaraan bermotor secara bergantian. Terlebih, jembatan ini tidak memungkinkan untuk dilalui dua kendaraan dari arah berlawanan karena sempit.

Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Klakah, Haryono, mengatakan jembatan tersebut sangat vital sebagai jalur evakuasi, jalur ekonomi, dan jalur aktivitas warga khususnya pendidikan bagi anak-anak.

Terkait jalur evakuasi ini, Kades mengatakan Jembatan Juweh merupakan satu-satunya jalur terdekat bagi warga Dukuh Bangunsari menuju Desa Klakah/Jrakah.

“Jika ada bahaya Merapi, warga Dukuh Bangunsari paling dekat ke Klakah atau Jrakah paling dekat yang melalui jembatan ini, sekitar 500 meter hingga 1 kilometer [km]. Kalau tidak, mereka harus memutar melalui jembatan Sepi yang jaraknya 4 km. Itu pun sangat berbahaya karena arahnya justru mendekat dengan puncak Merapi,” ujarnya di lokasi jembatan.

Karenanya, Kades menyampaikan rasa terima kasih kepada VRI dan komunitas patriot yang sudah memberikan bantuan jembatan gantung tersebut mulai dari pendanaan hingga pengerjaannya.

“Kami sangat berterima kasih kepada VRI dan Patriot yang sudah memberikan jembatan ini. Warga kami juga sangat antusias membantu logistik makan minum bagi para sukarelawan yang bekerja siang dan malam demi cepat selesainya pembangunan jembatan ini,” ujarnya tanpa memerinci nilai bantuan pembangunan jembatan tersebut.

Tokopedia