Seru! Warga Kalikotes Klaten Berebut 1 Ton Ikan Gratis

Warga memenuhi Embung Cina berburu ikan gratis di Desa Gemblegan, Kecamatan Kalikotes, Minggu (16/9 - 2018). (Solopos/Cahyadi Kurniawan)
16 September 2018 20:15 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Raungan suara sirene diselingi letusan kembang api mendorong ribuan pasang kaki terjun ke embung sedalam sekitar satu meter. Mereka berbondong-bondong ke tengah, berusaha menangkap ikan menggunakan jaring di tangan.

Di embung itu panitia menceburkan satu ton ikan berbagai jenis mulai dari lele, nila, tombro, bawal, dan lainnya. Pada ikan-ikan tertentu, sebuah pita warna-warni disematkan di bagian ekor.

Peserta yang mendapatkan ikan berpita berhak atas doorprize mulai dari kipas angin, magic jar, sepeda hingga uang tunai. Pada kesempatan itu pula hadir anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Endang Srikarti Handayani.

Endang turut memberikan 10 ekor ikan besar untuk diburu peserta di embung. “Kali ini tidak ada hadiah utama. Semua hadiah memiliki nominal yang sama,” kata Kepala Desa Gemblegan, Kecamatan Kalikotes, Purwanto, saat ditemui wartawan di sela-sela Lebaran Ikan, Minggu (16/9/2018).

Ia mengatakan Lebaran Ikan menjadi agenda tahunan untuk promosi potensi alam Desa Gemblegan. Dari sana diharapkan makin banyak wisatawan datang ke Gemblegan sehingga berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Ikan-ikan ini kami beli dari petani-petani di Gemblegan. Ini menjadi wujud syukur dan suka cita atas hasil ikan dan air yang melimpah,” kata dia.

Salah satu peserta, Darman, 48, warga Dukuh Boyogaten, Gemblegan, mendapatkan ikan lele berpita warna putih. Lele itu ditaksir seberat 1,5 kilogram (Kg). Panitia mengganjar Darman dengan sebuah hadiah dalam kardus.

“Cukup sulit menangkapnya karena embungnya penuh orang. Tapi saya senang bisa dapat ikan yang berpita khusus,” tutur dia.

Hal serupa juga dialami Sri Lestari, 43, warga Desa Kalikotes, Kecamatan Kalikotes. Ia mengikuti Lebaran Ikan dua kali namun baru kali ini mendapatkan ikan lele berpita khusus.

Lele berpita warna jingga itu ditaksir seberat lima Kg. Sri lalu mendapatkan hadiah dari panitia berupa uang tunai Rp300.000.

“Lelenya mau dibakar. Saya sudah biasa menangkap lele sebesar ini,” ujar dia semringah seraya menunjukkan lele kepada wartawan.

Patung Perdamaian

Perayaan Lebaran Ikan juga dibarengkan dengan peresmian patung perdamaian oleh pendiri Wahid Institute, Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid yang terkenal dengan nama Yenny Wahid. Patung perdamaian dibangun di ujung Embung Cina dengan tinggi enam meter berwarna emas.

Patung itu berbahan aluminium menggambarkan seorang perempuan menarik klenting atau gentong menggunakan selendangnya. Salah satu pematung, Urip Widiatmoko, 53, menuturkan patung merepresentasikan semangat warga Gemblegan.

Gentong menyimbolkan potensi air di desa. Air itu didekatkan dengan sosok perempuan sebagain pengejawantahan kehidupan.

“Zaman dulu banyak wanita beraktivitas mencuci, mandi, di sumber-sumber air. Saat pulang, mereka membawa air untuk memasak di rumah menggunakan klenting atau gentong,” ujar dia.

Urip menjelaskan patung dikerjakan selama dua bulan kerja sama dengan pematung asal Jogja dan Klaten. Patung dibuat dengan teknik cor aluminium dengan berat total 860 Kg.

Patung itu berongga dengan ketebalan permukaan mencapai 0,5 sentimeter (cm) – 0,7 cm. Pembuatan patung itu menelan dana Rp530 juta.

Finishing-nya pakai emas. Kalau murni aluminum di nuansa alam seperti ini menjadi kurang mencolok,” tutur Urip.

Pada kesempatan yang sama, Yenny Wahid mengungkapkan patung itu merupakan objek wisata tapi tidak boleh diajak bicara atau diberi bunga. Dia berpesan agar patung itu dijaga sebagai simbol masyarakat.

“Ini patung saya persembahkan untuk warga Gemblegan. Harapannya menjadi semangat untuk meningkatkan taraf hidup warga,” kata Yenny.