Terancam, Seniman Campursari Sragen Minta Perlindungan Polisi

Para seniman campursari dan organ tunggal berdiskusi setelah audiensi dengan Kapolres di halaman Stadion Taruna, Karangmalang, Sragen, Senin (17/9 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
17 September 2018 21:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Perwakilan seniman campursari dan karawitan se-Kabupaten Sragen yang difasilitasi Dewan Kesenian Daerah Sragen (DKDS) beraudiensi dengan Kapolres Sragen dan Komandan Kodim 0725/Sragen di ruang kerja Kapolres Sragen, Senin (17/9/2018).

Para seniman merasa diancam dan menjadi sasaran kekerasan warga yang berjoget dan diduga minum minuman keras (miras) saat pentas di hajatan warga.

Kedatangan perwakilan seniman tersebut diterima Kapolres Sragen AKBP Arif Budiman dan Dandim Letkol (Arh) Camas Sigit Prasetyo pada Senin siang. Pertemuan tersebut dilakukan tertutup.

Pertemuan berlangsung cukup lama. Hasil audiensi tersebut disampaikan kepada puluhan seniman perwakilan dari komunitas seni campursari dan karawitan se-Kabupaten Sragen di halaman Stadion Taruna Sragen.

Ketua DKDS Singgih Windarto menyampaikan hasil audiensi tersebut kepada rekan-rekannya dari kalangan seniman campursari dan karawitan. Dia menyampaikan tujuh tuntutan seniman berdasarkan hasil rapat di Pendapa Rumah Dinas Wakil Bupati Sragen beberapa waktu lalu diakomodasi semua oleh Kapolres.

“Kami mengacu pada kejadian yang menimpa teman-teman seniman, seperti ancaman dan pemukulan. DKDS kemudian menjembatani untuk bertemu Kapolres. Hari ini kami diterima Kapolres. Beberapa poin yang disampaikan ke Kapolres semua diakomodasi dan bisa dipertanggungjawabkan Kapolres,” katanya.

Singgih ingat kasus kekerasan terhadap seniman itu pernah terjadi di Jatisumo, Kecamatan Sambungmacan, dan Pilangsari, Kecamatan Ngrampal tetapi berakhir damai. Dia menginginkan ada semacam efek jera bagi para pelaku kekerasan karena pengaruh alkohol.

Singgih mengatakan DKDS selanjutnya membentuk tim 10 yang bertugas sosialisasi ke para seniman. Dia menyebut tim 10 itu terdiri dari pimpinan komunitas seniman campursari, organ tunggal, dan karawitan.

“Kapolres siap menandatangani spanduk yang dipajang di setiap pentas hajatan warga. Di spanduk itu tertulis tata tertib, sanksi, dan denda dengan tanda tangan kapolres,” ujarnya.

Dia menjelaskan untuk durasi pentas juga diatur malam hari pukul 20.00 WIB-24.00 WIB sedangkan siang hari pukul 09.00 WIB-15.00 WIB.

“Pentas malam hari yang riskan karena ancaman itu bisa bersifat fisik dan ancaman hendak merusak alat. Kalau ada kejadian lagi, kami diminta langsung lapor ke Kapolres dan pada malam atau hari itu pula langsung ditindaklanjuti,” ujarnya.

Sementara itu, Kapolres Sragen AKBP Arif Budiman membenarkan adanya audiensi tersebut. Namun, Kapolres tak memberi penjelasan lebih lanjut terkait tuntutan para seniman karena beberapa kali dihubungi Solopos.com lewat Whatsapp dan ponsel merespons.

Berikut 7 tuntutan seniman Sragen kepada Kapolres Sragen:
1. Aplikasi penerapan Perda Miras yang disahkan DPRD.
2. Mendesak dibuatkan payung hukum bagi seniman.
3. Masalah penerapan durasi waktu sesuai dengan izin hiburan.
4. Memantau zona merah acara hiburan, khususnya untuk campursari dan organ tunggal.
5. Kapolres dimohon tanda tangan dalam MMT yang berisi tata tertib berkaitan Perda Miras.
6. Dimohon setiap hiburan ada petugas kepolisian yang berjaga sampai acara selesai tanpa membeda-bedakan grup kesenian.
7. Kapolres diminta membina oknum anggota Polri yang tidak menjaga keamanan tetapi justru membuat acara menjadi molor.