Klaten Jadi Contoh Pengembangan Kesenian Ketoprak

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menyerahkan Piala Gubernur Jawa Tengah kepada perwakilan SMAN 1 Karanganom sebagai juara umum dalam Festival Ketoprak Pelajar tingkat SMA di Aula SD Krista Gracia Klaten, Minggu (16/9/2018) malam. (Istimewa - Humas Klaten)
17 September 2018 19:40 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN—Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menyatakan Kabupaten Klaten menjadi contoh bagi daerah lain dalam pengembangan kesenian Jawa khususnya ketoprak. Ke depan, ia berharap di kota dan kabupaten lain menggelar kegiatan serupa sebulan sekali melibatkan pemain profesional.

Ganjar menceritakan kawan-kawannya di Pati kerap mengajak bermain ketoprak bersama-sama. Saat ditanya, berasal dari mana, mereka menjawab dari Klaten. Di Klaten sendiri, ketoprak mulai dipentaskan oleh anak SD, SMP, hingga SMA/SMK. Upaya itu dinilai bagus untuk menumbuhkembangkan dan melestarikan kebudayaan Jawa.

Klaten menjadi pionir untuk melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Jawa,” kata dia, saat ditemui wartawan di sela-sela kunjungannya ke Festival Ketoprak Pelajar di SD Krista Gracia, Tonggalan, Klaten Tengah, Minggu (16/9/2018) malam.

Pada kesempatan itu Ganjar takjub melihat tata panggung ketoprak. Panggung dilengkapi dengan efek hujan, kembang api, serta menggunakan layar raksasa sebagai latar, bukan menggunakan menggunakan geber. Ide cerita yang disampaikan dalam ketoprak pun relevan untuk membawa pesan-pesan moral kepada masyarakat.

Salah satu adegan yang berkesan bagi dirinya adalah ketika seorang pemain memeragakan perilaku meminta uang kepada orang lain. Namun, saat akan diberi, ia menolak. Bahkan, ia bakal melaporkan ke KPK bahwa tindakan itu termasuk ke dalam suap.

Tapi begitu dikasih, ‘oh, enggak boleh. Kamu tukang suap ya? Nanti tak laporin KPK. Sebenarnya mereka anak SMP yang bisa membawa pesan-pesan bagus. Ini menjadi cerita yang sangat dinamis, diperankan anak-anak, dan bisa membawa pesan-pesan politik seperti melawan hoax dan melawan korupsi,” tutur dia.

Ia berharap pemerintah kabupaten/kota lain meniru Klaten. Di daerah lain kesenian seperti ketoprak atau wayang bisa dipentaskan rutin sebulan sekali melibatkan pemain profesional, pelajar, pejabat, hingga ASN. Dengan begitu, seni budaya Jawa akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Seperti ini kita uri-uri. Jawa Tengah ada macam-macam potensi baik seni tari, ketoprak, wayang atau yang lebih modern. Semua kami kembangkan, tidak boleh dibatasi,” kata Ganjar.