Kebakaran Sragen: Kronologi 4 Rumah Warga Sukodono Kobong

Tim BPBD dan petugas lainnya serta warga berusaha memadamkan api di Dukuh Nglembu RT 023/RW 012, Desa Gebang, Sukodono, Sragen, Selasa (18/9 - 2018). (Istimewa/BPBD Sragen)
18 September 2018 21:13 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN —  Kebakaran terjadi di Sragen. Empat bangunan rumah model Jawa pedesaan milik Sugiyo, 71, di Dukuh Nglembu RT 023/RW 012, Desa Gebang, Sukodono, Sragen, ludes dilalap api, Selasa (18/9/2018) pukul 15.30 WIB.

Tidak ada korban jiwa dalam musibah kebakaran Sragen tersebut  namun kerugian material diperkirakan mencapai Rp150 juta.

Camat Sukodono Riyadi Guntur Rilo Subroto saat dihubungi Solopos.com, Selasa malam, menjelaskan awal mula kebakaran di Sragen itu. Sebenarya empat rumah yang terbakar tetapi itu bangunan rumah model Jawa pedesaan, sehingga ada rumah depan, rumah tengah, dan rumah belakang, serta dapur (pawon).

Selain itu ada satu bangunan yang disebut gandok berukuran 2 meter x 3 meter yang merupakan bagian dari rumah. “Jadi bukan empat rumah dalam arti empat kepemilikan. Kebiasaan orang desa menyebutnya empat rumah tetapi sebenarnya milik satu orang, yakni Sugiyo. Kerugian diperkirakan mencapai Rp150 juta,” ujarnya.

Guntur mengatakan rumah tersebut dihuni Sugiyo dan istrinya Jaminem, 70, serta kerabatnya. Dia menyebut keluarga Sutarman itu merupakan kerabat Sugiyo yang tinggal di rumah itu. Dia menerangkan sejauh ini dugaan yang paling mungkin penyebab kebakaran itu karena korsleting di wuwungan rumah.

Di Kebun

“Menurut Sugiyo, sumber api pertama dari tempat itu. Saat itu, dia bisa melihat dari luar, yakni saat menyapu di kebun. Sementara keluarga Sugiyo menginap di rumah famili terdekat. Bantuan awal sudah diberikan,” tuturnya.

Sementara itu, Kapolres Sragen AKBP Arif Budiman melalui Kapolsek Sukodono AKP Bambang Erwadi saat dihubungi Espos, Selasa malam, mengatakan peristiwa itu bermula saat Sugiyo menyapu di halaman dan kaget saat melihat api berkobar di rumah bagian tengah.

Sugiyo kemudian meminta bantuan kepada Sejati Ningsih, 50, dan Sumiyem, 47, tetangganya, untuk menyelamatkan istrinya, Jaminem, 70, yang sedang sakit stroke di dalam rumah.

“Sejati menyelamatkan hewan ternak berupa sapi. Sumiyem menyelamatkan Jaminem. Karena kondisi musim kemarau maka api cepat menjalar dan sulit mencari air. Rumah yang ditinggali Sutarman kosong karena ditinggal merantau ke Sumatera ikut terbakar,” ujarnya yang juga diamini Kasubbag Humas Polres Sragen AKP Muryati.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen, Sugeng Priyono, mengatakan berdasarkan laporan tim satuan tugas (Satgas) BPBD yang ditugaskan di lokasi kejadian, peristiwa kebakaran itu terjadi pada pukul 15.30 WIB.

Dia menjelaskan api baru padam pada pukul 17.00 WIB. Dia mengungkapkan peristiwa itu berawal saat Pak Sugiyo melihat ada kobaran api di bagian rumah tengah.

“Sugiyo berteriak meminta tolong tetangga untuk memadamkan api. Kondisi api semakin membesar dan akhirnya merembet ke rumah di sampingnya. Akibatnya, lima rumah habis terbakar. Penyebab kebakaran diduga korsleting,” ujarnya.

Petugas Palang Merah Indonesia (PMI) Sragen, Warseno, menyampaikan kebakaran itu juga menghanguskan isi rumah, berupa sertifikat berharga, satu unit motor, pupuk, barang elektronik, dan barang lainnya.

“Kondisi rumah tidak bisa dihuni sehingga dua KK terpaksa mengungsi ke rumah saudara mereka. Lima rumah itu dalam satu pekarangan. Petugas PMI bersama tim pemadam kebakaran dan BPBD dan petugas lainnya ikut memadamkan api,” ujarnya.

Dari hitungan BPBD dan PMI, bangunan gandok yang berisi pakan ternak itu dihitung satu rumah sehingga mereka menyebut lima rumah sementara Camat Mondokan menyebut empat rumah.