Bandara Adi Soemarmo Solo Bersiap Hadapi Cuaca Ekstrem

Bongkat buat bagasi di Bandara Adi Soemarmo, Boyolali, Jawa Tengah - Bisnis/Abdullah Azzam
23 September 2018 10:15 WIB Farida Trisnaningtyas Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- PT Angkasa Pura I (Persero) Bandar Udara Internasional Adi Soemarmo Solo di Boyolali mulai bersiap menghadapi cuaca ekstrem seperti hujan lebat yang dipediksi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.

Informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan ada potensi hujan lebih dan meminta masyarakat lebih waspada. General Manager Bandara Internasional Adi Soemarmo, Abdullah Usman, mengatakan akan selalu siap dengan update informasi yang diberikan BMKG.

Selain itu, dia berkoordinasi dengan maskapai penerbangan atau airlines. Airport Operation Departement Head Bandara Internasional Adi Soemarmo, Iwan Novi Hantoro, menambahkan setiap hari Bandara Adi Soemarmo menginspeksi runway secara rutin.

Namun demikian, dalam menghadapi cuaca ekstrem, inspeksi runway dilakukan saat kondisi hujan agak reda maupun setelah betul-betul reda bersama dengan safety team. Hal tersebut guna untuk memantau air di permukaan runway yang nantinya dilaporkan ke Air Traffic Control (ATC) apabila terjadi genangan air.

"Info ini akan diteruskan lagi kepada pilot sebagai bahan pertimbangan untuk mengerem saat pendaratan pesawat di landasan pacu. Inspeksi tersebut juga untuk memastikan runway, taxiway, dan apron bersih dari FOD [Foreign Object Debris],” katanya.

Di sisi lain, dia mengimbau rekan-rekan Apron Movement Control untuk meningkatkan pengawasan sisi udara, khususnya apron. Pengawasan ini terkait peralatan ground handling seperti tangga pesawat, pemeriksaan terhadap pengganjal maupun pengunci roda, serta peralatan yang tidak digunakan supaya bisa diarahkan ke tempat-tempat yang tidak membahayakan.

“Cuaca ekstrem yang terjadi diharapkan tidak mengganggu operasional penerbangan sehingga dapat berjalan lancar,” jelasnya.

Sebelumnya, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Mulyono R. Prabowo, menjelaskan potensi hujan lebat ini terjadi karena adanya pola sirkulasi siklonik di sekitar Laut China Selatan. Ini mengakibatkan pembentukan dan pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah.