Jejak Sunan Kalijaga di Dukuh Sepi Klaten

Warno Sudarso, 77, menunjukkan batu yang diyakini petilasan Sunan Kalijaga di Dukuh Sepi, Desa Barepan, Cawas, Klaten. (Solopos/Taufi1 Sidik Prakoso)
23 September 2018 19:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Sepi merupakan salah satu dukuh di Desa Barepan, Kecamatan Cawas, Klaten. Di tengah perkampungan tersebut terdapat sebuah batu sepanjang dua meter yang dikenal sebagai petilasan Sunan Kalijaga, salah satu dari Walisongo.

Pada batu putih itu terdapat cekungan-cekungan yang diyakini terbentuk dari gerakan sujud Sunan Kalijaga seperti kepala, telapak tangan, serta telapak kaki. Ada cekungan lainnya yang diperkirakan menjadi tempat sang sunan menancapkan tongkatnya.

Terbentuknya petilasan itu bermula ketika sang sunan mendapat tugas menyebarkan agama di wilayah selatan Jawa. Saat melewati kawasan yang kini menjadi Kecamatan Cawas, Klaten, Sunan Kalijaga berniat menemui saudaranya, Kiai Ketip Banyumeneng, yang tinggal di Kauman, Cawas.

Namun, Sunan Kalijaga menunda niatnya setelah mendengar para santri mengaji saat malam. Ia terus berjalan hingga memasuki hutan yang kini menjadi Dukuh Dukuh, Desa Barepan. Di kawasan itu, sang sunan diganggu makhluk halus.

Ia lantas membuat sumur dan melaksanakan Salat Fajar. Lalu sang sunan kembali berjalan hingga menemui sebongkah batu di tengah sungai bersamaan dengan waktu subuh.

Sunan Kalijaga lantas mengambil air wudu dari sungai dan melaksanakan Salat Subuh beralaskan batu di tengah sungai tersebut. Sementara tongkatnya ia tancapkan tepat di belakang tempat salat.

“Setelah salat Sunan Kalijaga memanjatkan doa dan meminta petunjuk kepada Allah karena di kawasan ini tidak ada suara apa-apa dan tidak ada angin yang berembus. Karena inilah daerah itu kemudian dinamakan Sepi,” kata juru kunci petilasan Sunan Kalijaga, Warno Sudarso, 77, saat berbincang dengan Solopos.com belum lama ini di sekitar petilasan.

Ketua RW 008, Dukuh Sepi, Agus Purwono, mengatakan sebelum menjadi perkampungan, Sepi merupakan wilayah hutan belantara serta terdapat sungai. Dari cerita para sesepuh desa, pemberian nama Sepi berasal dari Sunan Kalijaga saat tiba di kawasan tersebut hingga melaksanakan Salat Subuh.

“Leluhur menyampaikan Sunan Kalijaga pernah menyampaikan kampung kami itu sepi dan sunyi. Namun, saat 1 Sura suasananya berubah ramai karena orang-orang berdatangan,” kata Agus.

Ia menjelaskan saban 1 Sura dalam penanggalan Jawa, Dukuh Sepi menjadi perkampungan yang ramai selama beberapa hari seperti Lebaran. Ribuan orang dari berbagai daerah berdatangan ke petilasan Sunan Kalijaga.

“Kini tidak hanya saat Sura, ketika hari biasa juga ada saja orang datang ketika malam. Namun, yang paling ramai itu ketika malam 1 Sura. Tidak hanya Klaten tetapi ada yang dari Jawa Timur seperti Malang,” urai Agus.