Cerita Peserta Ruwatan Sukerta di WGM Wonogiri, Pernah Telan Cincin hingga Nyaris Mati

Warga bersiap mengkuti ruwatan di Objek Wisata Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri, Minggu (23/9/2018). (Solopos - Rudi Hartono)
23 September 2018 18:55 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI—Lion Sukmo, 21, bersama adiknya, Nindy Sukma, 18, berbincang di panggung belakang layar tempat digelarnya pentas wayang kulit di halaman Wisata Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri, Minggu (23/9/2018).

Mereka mengenakan kain mori putih yang dibelitkan di badan bagian bawah.  Kakak beradik dari Jatinom, Desa Jatisrono, Kecamatan Jatisrono, Wonogiri itu adalah dua dari 21 peserta ruwatan yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud).

Ruwatan bagian dari acara jamasan pusaka dan pergelaran wayang kulit pada hari itu. “Biar enggak sial lagi,” ucap Lion saat ditanya motivasinya ikut ruwatan.

Pemuda itu mengatakan dia dan adiknya merupakan anak kedana-kedini, istilah Jawa untuk menyebut dua anak dengan komposisi anak pertama laki-laki dan anak kedua perempuan. Menurut keyakinan Jawa, kedana-kedini termasuk sukerta, atau orang yang dilingkupi kemalangan atau hal-hal buruk lainnya.

Lion mempercayai hal itu. Sejak lahir dia dan adiknya diberi pemahaman tersebut mengingat orang tua dan kakeknya menganut kejawen. “Buktinya sejak kecil sampai sekarang sering dapat sial,” ucap Lion.

Kemalangan seperti terus mengintainya. Bahkan, kemalangan pernah membuatnya nyaris meninggal dunia. Menurut cerita orang tuanya, saat berusia empat bulan Lion pernah menelan cincin.

Beruntung, saat itu orang tuanya mengetahuinya sehingga cincin bisa dimuntahkannya. Saat kelas V SD dia pernah menderita demam berdarah dengue (DBD) yang membuatnya sakit parah. “Waktu itu dokter bilang kalau terlambat dibawa ke rumah sakit beberapa menit saja, saya tak bisa tertolong,” kata Lion.

Saat masih SMP dia mengalami patah hidung karena berkelahi dengan temannya. Saat sekolah SMK, Lion kecelakaan tunggal menabrak tiang listrik yang mengakibatkannya patah ruas jari kaki kiri. Tak berhenti sampai di situ, beberapa tahun kemudian dia pernah terjatuh di kamar mandi yang mengakibatkan tulang di telapak tangannya patah.

Murwa Kala

Kabid Kebudayaan Disdikbud Wonogiri, Eko Sunarsono, mengatakan peserta ruwatan tak dikenai biaya apa pun. Kegiatan itu untuk meringankan beban warga yang ingin diruwat.

Tidak dapat dimungkiri masih ada orang yang meyakini bahwa kejadian buruk yang menimpa adalah karena mereka sukerta, sehingga perlu diruwat. Sementara, menggelar ruwatan mandiri membutuhkan dana jutaan rupiah mengingat ruwatan harus disertai pergelaran wayang kulit dengan lakon, Murwa Kala.

Lakon tersebut memberi pesan bahwa kehidupan jangan sampai dimakan waktu atau dihabiskan untuk hal-hal buruk.

Kepala Disdikbud Wonogiri, Siswanto, menambahkan ruwatan dan jamasan digelar untuk melestarikan kebudayaan dan menanamkan nilai-nilai kebudayaan kepada masyarakat. Pihaknya akan melibatkan banyak pelajar agar tujuan penanaman nilai-nilai budaya kepada generasi muda tercapai.