Cerita Sejarah di Balik Haul Agung Kiai Singoprono di Boyolali

Warga memanjakan doa di makam Kiai Singoprono I di kawasan Gunung Tugel, Desa Nglembu, Sambi, Boyolali, Minggu (23/9 - 2018) dalam Haul Agung Kiai Singoprono. (Solopos/Nadia Lutfiana Mawarni)
24 September 2018 15:08 WIB Anik Sulistyawati Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI - Makam Kiai Singoprono I di Gunung Tugel Desa Nglembu, Kecamatan Sambi, Boyolali tampak lebih ramai peziarah,  Minggu (23/9/2018) pagi. Ribuan orang tua-muda mendaki ratusan anak tangga untuk bisa ngalap berkah di makam sang penyebar agama Islam itu.

Salah satunya Hariyanto, 27, warga Ampel, Boyolali. Rutin saban tahun pemuda ini mendatangi makam Kiai Singoprono I ketika haul agung.
Hariyanto bersama keluarganya terlihat khusyuk menundukkan kepala sembari memanjatkan doa-doa.

“Intinya kami ingin dapat berkahnya,” kata dia. Sayang, Hariyanto tak dapat berlama-lama berdoa. Ratusan orang telah mengantre di belakangnya. Makam sang kiai pun penuh dengan aneka bunga tabur, juga dupa yang menyala.

Haul dilaksanakan tiap Muharam di hari Minggu Legi saat cuaca cerah. “Untuk tanggal terserah, yang penting harinya Minggu Legi dan tidak boleh di waktu hujan,” ungkap penjaga makam, Djoko Mulyono, saat berbincang dengan wartawan Solopos.com, Nadia Lutfiana MawarniMinggu pagi.

Minggu Legi dipercaya sebagai hari meninggalnya Kiai Singoprono I, penyebar agama Islam asal Desa Walen, Simo. Masyarakat setempat mempercayai Kiai Singoprono I sebagai wali Allah ke-10 setelah sembilan wali. Kiai Singoprono juga dipercaya sebagai keturunan Raja Brawijaya dari Majapahit. Singoprono dikenal warga sebagai manusia yang berbudi luhur dan sederhana. Sehari-hari dia berdagang hingga pernah tinggal di Gunung Tugel. Legenda mengenai Kiai Singoprono semakin masyhur di masyarakat ketika dia berhasil mengalahkan Rogo Runting.

Saat itu, Rogo Runting ingin menunjukkan kesaktian dengan mengalahkan Kiai Singoprono. Rogo Runting yang tinggal di bukit perbatasan Simo-Klego itu kemudian menggelindingkan sebuah telur agar mengenai tempat tinggal Kiai Singoprono di bukit Desa Nglembu. Lewat cerita telur inilah kemudian kediaman Singoprono I dinamai Gunung Tugel, yang berarti batas antara dirinya dan Rogo Runting.

Dua tahun terakhir, acara Haul Agung dikonsep berbeda. Mereka bergabung bersama prajurit Keraton Kasunanan Solo untuk mengikuti kirab sebelum haul dimulai. Tujuannya agar warga desa setempat tetap merasa memiliki terhadap situs Gunung Tugel sebagai kawasan wisata ziarah.

Anak-anak dan orang dewasa berdandan meriah menggunakan aneka kostum. Mereka berbaris di belakang para prajurit Keraton yang membawa empat gunungan, berupa gunungan hasil bumi, sayuran, buah-buahan, dan perabotan rumah tangga. Barisan gunungan ini didahului dengan enam ekor kuda yang masing-masing ditungganggi oleh para kiai dan tokoh masyarakat, delapan Kebo Bule, dan puluhan bergodo (prajurit).

Setelah prosesi kirab di desa selesai, haul diisi oleh tokoh agama asal Purwodadi, Grobogan, Ahmad Rafii. Rafii berpesan kepada para jemaah agar senantiasa meneladani sikap Kiai Singoprono I. “Agar kita senantiasa rendah hati, dan banyak bersyukur sebab keimanan kita tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Singoprono,” kata dia. Selain ramai pada saat haul, di kawasan Gunung Tugel rutin digelar acara mujahadah tiap malam Jumat Legi dan hafalan Alquran tiap Selasa Kliwon siang.