Penanganan Banjir Solo, Giliran Warga Gondang Ketir-Ketir

Warga melintas di tanggul Kali Pepe hulu sisi selatan yang masuk wilayah Gondang, Manahan, Banjarsari, Solo, Rabu (26/9 - 2018). (Solopos/Irawan Sapto Adhi)
26 September 2018 21:15 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Warga di tanah negara selatan tanggul Kali Pepe hulu yang masuk wilayah Kampung Gondang, Manahan, Banjarsari, mulai ketir-ketir bakal digusur karena terdampak proyek Penanganan Banjir Kota Solo Paket 3 (Kali Pepe hulu). 

Seorang warga yang tinggal di selatan tanggul Kali Pepe hulu, Eko Sugianto, 44, mengaku belum pernah mendapatkan sosialisasi dari Pemerintah Kota (Pemkot) Solo maupun Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) terkait dampak pelaksanaan proyek Penanganan Banjir Kota Solo terhadap mereka. 

Oleh sebab itu, dia kini merasa khawatir jika Pemkot tiba-tiba saja meminta dia pindah atau digusur dengan alasan terdampak proyek tersebut. Eko menyaksikan BBWSBS sekarang mulai menyasar penataan tanggul Kali Pepe hulu sisi selatan.

“Kami belum pernah diundang untuk mengikuti sosialsiasi jadi tidak tahu rumah warga di tanggul bakal dibongkar atau tidak?” kata Eko saat berbincang dengan Solopos.com di rumahya, Rabu (26/9/2018) pagi. 

Eko kini tercatat sebagai warga Kampung Gondang RT 005/RW 002 Kelurahan Manahan, Banjarsari, Solo. Eko berharap Pemkot maupun BBWSBS bisa segera mengadakan sosialisasi dengan mengundang warga di selatan tanggul Kali Pepe hulu kawasan Tirtonadi. 

Dia menilai sosialisasi diperlukan agar warga setidaknya punya kesempatan untuk berbicara atau menyampaikan aspirasi terkait dampak proyek penanganan banjir. Eko mengaku tidak masalah rumahnya dibongkar karena terdampak proyek asalkan mendapat ganti rugi yang sepadan. 

Dia meminta Pemkot memberi ganti rugi warga di selatan tanggul sama seperti warga bantaran Kali Pepe hulu yang lebih dulu direlokasi.

“Kami sadar selama ini hanya tinggal menumpang di tanah negara. Jika diminta pindah, saya siap asalkan pemerintah memberikan ganti rugi yang wajar. Kami dulu membangun rumah kan dengan uang. Seandainya harus pindah, saya berharap bisa diberi uang Rp34,2 juta seperti warga bantaran,” terang Eko.

Eko mengaku keresahannya semakin besar mengingat rumahnya sudah pernah diukur oleh petugas Pemkot Solo. Dia becerita petugas yang datang ke rumahnya ketika ditanya mengaku tidak mengetahui secara pasti soal nasib warga di selatan tanggul Kali Pepe hulu. 

Petugas saat itu hanya memberi tahu jika diberi tugas untuk mengukur rumah warga. Eko beralasan tak menolak kedatangan petugas karena merasa tidak enak hati. 

Dia juga khawatir jika menolak kedatangan petugas malah rumahnya langsung dieksekusi tidak lama setelah itu. “Harapan utama saya dan warga lain tentu sama, yakni kalau bisa rumah di selatan tanggul tidak usah digusur. Seandainya tanggul ditutup, kami bisa membuat jalan keluar sendiri dengan memanfaatkan badan tanggul yang belum terpakai,” jelas Eko yang sudah sembilan tahun tinggal di selatan tanggil Kali Anyar tersebut.

Seorang warga lain di selatan tanggul Kali Pepe hulu yang enggan disebut namanya juga mengaku khawatir rumahnya dibongkar karena terdampak proyek Penanganan Banjir Kota Solo Paket 3. 

Dia hanya bersedia pindah jika Pemkot memberikan akses perolehan rumah subsidi. Warga laki-laki paruh baya tersebut enggan menerima ganti rugi berupa uang tunai karena tidak ada jaminan bisa memperoleh tempat tinggal pengganti.