Ancaman Lisus di Sukoharjo Masih Tinggi, Begini Imbauan BPBD

ilustrasi pohon tumbang. (Solopos/Dok)
26 September 2018 21:12 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo meminta masyarakat untuk mewaspadai terjadinya lisus pada musim pancaroba atau peralihan dari musim kemarau ke penghujan. Angin lisus bisa memporak-porandakan rumah penduduk hanya dalam hitungan menit.

Musim pancaroba ditandai dengan hujan ekstrem namun hanya berlangsung sesaat. Saat itu, terjadi hujan lebat dengan intensitas tinggi disertai angin kencang.Dalam hitungan menit, rumah penduduk dan pohon di pinggir jalan tumbang diterjang lisus. Kali terakhir, lisus menerjang pohon di wilayah Kecamatan Mojolaban pada Jumat (21/9/2018). Tak hanya itu, rumah milik Supardi, warga RT 02/RW 08, Dusun Ngentak, Desa/Kecamatan Weru roboh diterjang angin lisus. “Kami memprediksi ancaman angin lisus masih tinggi saat musim peralihan. Biasanya, angin kencang muncul sebelum turun hujan lebat,” kata Kepala Pelaksana BPBD Sukoharjo, Sri Maryanto, saat berbincang dengan Solopos.com, Senin (24/9/2018).

Salah satu gejala lisus yakni awan hitam menggumpal sesaat sebelum hujan yang disertai angin kencang. Angin kencang dengan pusaran berbentuk lingkaran bakal menerjang dan memporak-porandakan rumah penduduk.

Di Sukoharjo, daerah rawan angin lisus terdapat di 12 kecamatan. Masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan apabila muncul awan hitam yang menggumpal sesaat sebelum hujan. “Lisus berbeda dengan bencana alam lainnya seperti tanah longsor dan banjir. Angin lisus tak dapat diprediksi,” ujar dia.

Pada 2016, puluhan rumah penduduk dan sekolah rusak parah hingga ringan lantaran diterjang lisus. Tak ada korban jiwa dalam kejadian itu. Namun, kerugian material akibat terjangan lisus cukup besar.

Menurut Sri, para sukarelawan bencana alam telah disiagakan di setiap kecamatan. Mereka selalu berkoordinasi dengan perangkat desa apabila muncul potensi lisus dan banjir. Saat terjadi bencana alam, para sukarelawan lansung merespons dengan mendatangi lokasi kejadian. “Dalam sepekan terakhir sudah terjadi hujan baik intensitas tinggi maupun normal. Kami selalu berkoordinasi dengan para sukarelawan bencana alam maupun pemerintah desa saat terjadi bencana alam.”