Petani Karamba WGM Wonogiri Resah Ikan Rawan Mati Saat Pancaroba

Petani ikan memanen ikan di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri. (Solopos/Ichsan Kholif Rahman)
26 September 2018 21:05 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI — Menjelang peralihan musim kemarau ke penghujan, wilayah Kabupaten Wonogiri beberapa kali terakhir telah diguyur hujan dalam intensitas rendah hingga sedang. Kondisi itu menyebabkan petani ikan nila di Waduk Gajah Mungkur (WGM), Desa Sendang, Kecamatan Wonogiri, resah karena pergantian cuaca mendadak membuat ikan rawan mati.

Salah satu petani ikan di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, Agung Susanto, saat ditemui solopos.com di sekitar WGM, Selasa (25/9/2018), mengatakan pergantian musim menjadi keresahan tersendiri bagi para petani ikan di Waduk Gajah Mungkur.

“Kematian ikan dipicu faktor pergantian cuaca yang menyebabkan air menjadi lebih panas dan kurangnya oksigen. Hingga saat ini kami dengan 35 kolam menyiasati dengan membuat ombak buatan dengan mengelilingi kolam dengan perahu,” ujar warga Dusun Godean, Desa Sendang, Wonogiri, itu.

Ia menambahkan perbedaan suhu yang semula panas lalu dingin karena terkena hujan juga membuat ikan sulit beradaptasi hingga akhirnya mati. Hal itu menurutnya terjadi pada seluruh usia ikan bahkan ikan yang hendak dipanen. Dipilihnya cara tradisional dengan membuat ombak buatan dikarenakan hingga saat ini dari 35 kolam tingkat kematian ikan hanya berkisar 20 ekor ikan atau masih dalam batas wajar.

Sementara itu, petani ikan lainnya warga Desa Sendang, Dwi Suprihatin, mengatakan telah memersiapkan diesel untuk membantu membuat arus dan menambah kadar oksigen dalam air. Mesin diesel mulai diintensifkan penggunaannya ketika hujan sudah mulai rutin.

Mesin akan menyala selama semalam atau bisa 24 jam tergantung kondisi. Selain itu, kini ia mulai menahan untuk melakukan pembibitan dan segera mungkin menjual ikan-ikan yang sudah dapat dipanen ke berbagai wilayah di Jawa Tengah dan Jogja. Pasalnya, pada tahun lalu ia sempat merugi sejumlah delapan ton ikan pada saat pergantian musim.

Plt. Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (Disnaperla), Heru Sutopo, mengatakan pergantian musim dari kemarau ke penghujan menjadikan rawan terjadi perbedaan suhu yang mencolok pada bagian dasar air waduk dan permukaan air waduk dan terjadi pencampuran. Hal ini biasa terjadi di perairan yang dangkal namun belum tentu terjadi pada setiap tahunnya karena merupakan fenomena alam.

“Hal ini dapat diantisipasi dengan mengurangi kepadatan penebaran ikan dan secepatnya melakukan pemasaran ikan yang sudah siap jual. Lantas, kemudian kolam dapat diberikan kincir air untuk meningkatkan jumlah oksigen untuk mengantisipasi kandungan amoniak yang ke atas permukaan air,” ujar Heru Sutopo.