Panggung Hiburan Ala THR Sriwedari Hadir Di TSTJ Akhir Tahun Ini

Taman Lampion dan Taman Pelangi di Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ), Solo. (Solopos/Nicolous Irawan)
27 September 2018 14:15 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Rencana Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) memiliki panggung hiburan atau amphitheater tinggal selangkah lagi.

Panggung hiburan tersebut akan dibuat terbuka layaknya Taman Hiburan Rakyat (THR) Sriwedari. Penandatangan kerja sama wahana baru tersebut akan dilaksanakan Perumda TSTJ dengan PT Warna Buana Indonesia (WBI) selaku calon investor pada Jumat (28/9/2018).

“Amphitheater ini akan mengakomodasi penggemar musik THR,” kata  Direktur Perusahaan Daerah (Perusda) TSTJ Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso ketika dijumpai wartawan di Balai Kota, Rabu (26/9/2018).

Saat ini, Bimo mengatakan tahapan kerja sama sudah masuk finalisasi dan tinggal menunggu penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) pada Jumat besok. PT WBI akan memanfaatkan lahan di area komersial seluas 2 hektare, tepatnya TSTJ sisi timur. 

Grand design pemanfaatan lahan komersial sesuai pembahasan akan dibagi dalam beberapa zona, salah satunya area teater terbuka layaknya THR Sriwedari. Zona itu yang pertama akan dibangun.

“Zona lain yang akan dibangun adalah zona budaya dan zona kreatif,” katanya.

Bimo berharap THR ala PT WBI di TSTJ bisa beroperasi akhir tahun ini. Pembangunan zona teater terbuka dapat menjadi pengganti THR Sriwedari sebagai panggung pentas musik rakyat. Wahana lainnya akan dibangun adalah game online. 

“Secara detailnya nanti saya paparkan saat penandatanganan MoU,” katanya.

PT WBI melirik sisa lahan komersial seluas 2 ha tidak jauh dari Taman Pelangi. Konsep yang ditawarkan berbeda dengan Taman Pelangi yang berupa taman lampion, beberapa wahana permainan anak, serta air mancur menari. 

Calon investor tersebut akan menawarkan wahana permainan untuk melengkapi taman hiburan di TSTJ. Anggota Dewan Pengawas TSTJ Sutarto mengatakan fungsi TSTJ sebagai pusat konservasi tidak boleh tergerus oleh perolehan gemilang di sektor komersial. 

Keduanya harus berjalan beriringan tanpa saling mengalahkan. Menurutnya, kini memiliki potensi bisnis yang sedang berkembang setelah investor masuk untuk menggarap Taman Pelangi. 

Ditambah dengan satu investor lainnya yang saat ini masih dalam proses tahap akhir. Investor tersebut diyakini akan mendongkrak pemasukan di taman satwa terbesar di Jawa Tengah tersebut. 

“TSTJ kan dibagi dua, lahan komersial dan konservasi hewan. Kita harus berimbang. Keuntungan yang diperoleh dari lahan komersial nanti kan juga akan kembali ke kesejahteraan satwa,” katanya.

Merujuk data, terjadi peningkatan jumlah pengunjung TSTJ sejak beroperasinya Taman Pelangi. Kondisi ini berdampak pada target pengunjung TSTJ selama 2017 yang mencapai 417.686 atau melampaui dari target 400.000 orang.