Warga Waswas setelah Flyover Manahan Solo Beroperasi

Bangunan berdiri di tepi Jl. Kalitan, Kelurahan Penumping, Laweyan, Solo, Kamis (27/9). Beberapa warga yang tinggal atau memanfaatkan bangunan tersebut mengaku khawatir digusur dengan alasan perlu dilakukannya pelebaran Jl. Kalitan demi memperlancar arus lalu lintas pascapembangunan flyover. - Irawan Sapto adhy
27 September 2018 21:20 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

 Solopos.com, SOLO –Warga di Jl. Kalitan, Kelurahan Penumping, Laweyan, Edi Haryanto, 60, mengaku warga belum diundang Pemkot maupun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk sosialisasi membahas skema rekayasa lalu lintas kawasan Kota Barat. Dia khawatir rekayasa lalu lintas tersebut merugikan warga yang menempati tanah negara di tepi Jl. Kalitan. Warga khawatir pelebaran Jl. Kalitan menggusur rumah mereka.

“Dari sebelum pengerjaan proyek hingga sekarang, saya belum pernah diundang untuk menghadiri sosialisasi soal flyoverItu yang membuat saya kecewa,” jelas Edi di rumahnya, Kamis (27/9/2018).

Edi mengatakan dengan adanya sosialisasi, warga setidaknya punya kesempatan untuk langsung berbicara atau memberi masukan kepada instansi terkait mengenai rekayasa lalu lintas pascapembangunan flyover. Edi keberatan jika pemerintah langsung melakukan uji coba atau malah langsung menerapkan rencana skema rekayasa lalu lintas sebelum memberi sosialisasi kepada warga di sekitar lokasi flyover. Salah satu hal yang ingin Edi sampaikan kepada pemerintah, yakni jangan menggusur rumah di tepi Jl. Kalitan demi alasan kelancaran arus lalu lintas setelah flyover dibangun. Dia tinggal di rumah tersebut selama 40 tahun dan sangat ingin memperoleh sertifikat tanah.

“Saya itu selalu berdoa, rumah jangan sampai digusur. Malah mudah-mudahan saya bisa mendapatkan sertifikat tanah. Pak Jokowi itu kan saya lihat di TV sering bagi-bagi sertifikat tanah kepada warga. Saya itu berharap suatu saat nanti saya yang diberi sertifikat tanah itu,” jelas Edi.

Ditemui terpisah, warga Kelurahan Manahan, Banjarsari, Sudaryono, 62, juga belum mendapatkan sosialisasi skema rekayasa lalu lintas pascapembangunan flyover Manahan. Dia mengaku masih penasaran terkait perlintasan sebidang Manahan akan dibuka atau tidak setelah flyover jadi.

Sudaryono juga ingin mempertanyakan kepada Pemkot dalam hal ini Dinas Perhubungan (Dishub) Solo perihal kepastian akses jalan bagi warga Manahan yang ingin memanfaatkan flyover Manahan. Sudaryono berharap dalam penerapan rekayasa lalu lintas, Dishub banyak memasang rambu-rambu petunjuk arah sehingga memudahkan masyarakat menemukan rute perjalanan yang tepat.

“Belum ada sosialisasi lagi dari pemerintah soal pembangunan flyover. Jadi kami belum tahu soal kepastian kapan flyover mulai dibuka untuk kendaraan umum. Ya mudah-mudahan sosialisasi bisa dilakukan secepatya biar warga tahu,” jelas Sudaryono.