Kakek 93 Tahun Bertapa Puluhan Hari di Boyolali, Demi Apa?

Ponco Harjono, kakek yang menghabiskan hari/harinya bertapa di Boyolali. (Solopos/Nadia Lutfiana Mawarni)
27 September 2018 23:15 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Ponco Harjono, 93, kakek yang mengaku sebagai aktivis pembela Hak Asasi Manusia (HAM) asal Ibu Kota kedapatan menghabiskan hari-harinya di Bukit Rogo Runting, Desa Tanjung, Klego, Boyolali.

Saat Solopos.com menjumpainya Selasa (18/9/2018) lalu, Ponco mengaku sedang bertapa atas dawuh Ratu Kidul. Sebelum menjejakkan kaki ke Bukit Rogo Runting, Ponco mengaku telah bertapa selama 80 hari di kawasan Pengging, Banyudono.

Aktivitas bertapa itu dia lakoni sejak 2017 lalu. Pada 40 hari pertama, Ponco mengaku mendapatkan bekal 4.000 prajurit gaib dari Ratu Pengging. Pada empat puluh hari kedua dia diperintahkan pergi ke Jogja untuk bertapa.

Lantas, Ponco pergi ke Jogja bersama prajurit gaib dan bertapa selama 40 hari di kawasan milik Keraton Kasultanan Yogyakarta. Di akhir masa pertapaannya, Ponco mengaku telah dijumpai Ratu Kidul, penguasa laut selatan.

Ratu Kidul berpesan kepada Ponco agar dia bertapa hingga “selesai”. “Maksudnya ‘selesai’ itu mendapatkan kebutuhan batin yang kita inginkan, itu kita sendiri yang tahu,” imbuhnya.

Enam puluh hari penuh kenihilan membuat Ponco kembali ke Boyolali. Dia memutuskan pergi bertapa di Bukit Rogo Runting atas usul dari salah satu prajurit gaib.

Saat Solopos.com menemui Ponco, dia mengaku sudah tinggal di Bukit Rogo Runting selama 62 hari. Rencananya dia ingin menggenapkan hari bertapa hingga 90 hari. Jika tetap tidak mendapatkan yang diinginkan, Ponco akan pindah tempat bertapa di kawasan Wedi, Klaten.

Ponco hari itu berkopiah dan mengenakan kemeja putih. Dia mengaku berganti baju tiap lima hari sekali. Tidak ada aktivitas mencuci atau mandi. Air hanya dia gunakan untuk keperluan buang air besar dan kecil.

Bahkan salat tetap dia lakukan tanpa berwudu dan hanya tayamum menggunakan debu. Kamar tidur Ponco adalah selembar tikar yang dia letakkan di samping batu nisan Rogo Runting. Di samping tikar, tumpukan baju tampak berantakan tak dilipat.

“Ini akan dicuci setelah saya turun,” ucap Ponco.

Tidak ada listrik, televisi, radio, maupun alat komunikasi. Ponco hanya membawa beberapa buku yang akan dia baca untuk mengusir rasa bosan. Selain membaca, aktivitasnya hanya terbatas pada berdoa dan tidur.

Untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum, Ponco mengandalkan warga di sekitar desa. Biasanya warga akan membawakan makan dengan bungkus plastik atau daun agar tak perlu repot mencuci.

Ditanya soal alasan bertapa, Ponco mengaku kepercayaannya itu berangkat dari sejarah kerajaan Demak. Kakek itu menuturkan Demak berdiri pada 1513 Masehi lewat beberapa tokoh Kerajaan Majapahit yang memutuskan memeluk Islam.

Kala itu raja pertama Demak, Raden Patah, meminta sang ayah, Prabu Brawijaya untuk memeluk Islam. Namun Prabu Brawijaya menolak.

Penolakan Brawijaya memeluk Islam membuat rambutnya harus digunting oleh Sunan Kalijaga. Namun Sunan Kalijaga gagal menggunting rambut tersebut.

Sunan Kalijaga kemudian membaca pertanda bahwa 500 tahun setelah berdirinya Kerajaan Demak moral umat Islam akan rusak. Bagi Ponco, perkataan Sunan Kalijaga itu terbukti benar karena pada 2013, 500 tahun setelah Kerajaan Demak berdiri, Menteri Agama Suryadharma Ali terbukti melakukan korupsi dana haji.

Terpisah, Kepala Desa Tanjung, Suyadi, mengatakan Bukit Rogo Runting masih dipercaya sebagai tempat mencari berkah. “Biasanya ada orang datang untuk berdoa, berziarah, dan kadang-kadang bertapa,” ujar dia.