Tradisi Lempar Apam di Jatipuro Karanganyar, Apa Maknanya?

Warga Kendal, Jatipuro, Karanganyar, melempar apam di sela-sela tradisi Wahyu Kliyu di desa setempat, Rabu (26/9 - 2018) malam. (Solopos/Ponco Suseno)
27 September 2018 19:15 WIB Ponco Suseno Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Rabu (26/9/2018) malam menjadi waktu yang ditunggu-tunggu warga Kendal, Jatipuro, Karanganyar. Pada malam itu merupakan tanggal 15 bulan Sura dalam kalender Jawa. 

Setiap tanggal tersebut, warga Kendal memiliki tradisi menggelar upacara adat Wahyu Kliyu. Tradisi ini berupa sebaran apam dengan mengucap kalimat zikir. Warga berbondong-bondong keluar rumah di malam hari menuju salah satu rumah warga setempat. 

Pada kesempatan itu masyarakat Kendal memperbanyak zikir dengan ucapan Ya Hayyu Ya Qayyu yang artinya Yang Maha Hidup dan tidak tergantung pada makhuk-Nya. Melalui zikir, warga berharap dapat semakin dekat dengan Sang Maha Pencipta. 

Di saat seperti itu, warga bermunajat di keheningan malam untuk kesejahteraan dan ketenteraman di Kendal, Jatipuro. Tradisi Wahyu Kliyu sudah berlangsung bertahun-tahun di desa itu.

Tradisi ini erat hubungannya dengan pembuatan apam yang dilakukan di setiap rumah warga. Apam dipilih karena bahan bakunya dari hasil bumi di sekitar Kendal. 

Bahan baku apam di antaranya beras, kelapa, dan gula. Dalam bahasa Arab, apam diartikan sebagai afwan yang artinya maaf atau ampunan. 

Filosofi penggunaan apam, yakni warga memohon ampunan kepada Allah SWT atas segala kesalahan yang telah diperbuat. Jumlah apam yang dikumpulkan di malam itu mencapai 344 apam. 

Jumlah ini disesuaikan dengan zikir sebanyak 344 kali yang dilakukan warga. Dalam tradisi Wahyu Kliyu sebaran apam menjadi puncak acara. Warga yang membuat apam dengan senang hati memberikannya ke pengunjung yang hadir. 

Mula-mula, apam-apam bikinan warga dimasukkan ke sejumlah tenggok. Apam itu dikumpulkan di salah satu rumah warga yang sudah ditunjuk. 

Tenggok-tenggok berisi apam dijejer rapi di tempat steril. Tempat itu berukuran 15 meter x 5 meter dengan dikelilingi bambu yang sudah dililiti janur sebagai pembatas. 

Dengan dipandu seorang pemuka agama, warga berzikir di tengah malam itu. Sambil berzikir, mereka melemparkan apam ke tempat steril yang beralaskan daun pisang itu. Hal itu dilakukan secara berulang-ulang hingga mencapai 344 kali. 

“Saat melempar apam itu ada aturannya. Hanya boleh dilakukan laki-laki, harus satu-satu karena itu menjadi hitungan dalam berzikir,” kata penjaga adat di Kendal, Rakino, 60, saat ditemui wartawan di sela-sela acara. 

Wahyu Kliyu juga dapat diartikan sebagai bagian bersedekah. Setiap apam yang sudah dilempar akan dipungut kembali oleh warga. Berikutnya, apam-apam itu dibagi-bagikan ke seluruh pengunjung yang hadir. 

“Dalam satu rumah itu biasanya membawa satu tenggok [berisi 344 apam]. Saat acara rampung, kami berikan apam-apam itu secara cuma-cuma ke warga lain. Meski sudah diberikan kepada yang lain, warga yang membuat apam masih dapat membawa pulang apam hingga satu tenggok,” kata salah seorang warga di Kendal, Mulyono.  

Melalui zikir dan sebaran apam, warga Kendal berharap memperoleh berkah dari Allah SWT. Wahyu Kliyu juga diartikan sebagai kegiatan tolak bala agar suasana di Kendal sejuk, aman, damai, dan dihindarkan dari berbagai marabahaya. Untuk itulah, tradisi Wahyu Kliyu tetap lestari. 

Bupati Karanganyar, Juliyatmono, yang juga hadir di acara itu berpesan agar warga tetap menujukan kegiatan itu kepada Allah SWT.

“Selaku bupati di Karanganyar, kula ndherek mangayubagyo. Ini menjadi budaya yang bagus. Tradisi ini berawal dari niat baik. Di sini yang disembah tetap Allah SWT, jadi bukan apamnya. Melalui kegiatan ini, semoga dipun kabulaken segala panyuwunipun,” kata Juliyatmono.