146 Tabung Gas Melon Disita dari Rumah Makan Solo

Petugas dari Pertamina dan Pemkot Solo menggelar sidak penggunaan elpiji bersubsidi di warung-warung besar, Kamis (27/9 - 2018). (Solopos/Bayu Jatmiko Adi)
28 September 2018 14:19 WIB Bayu Jatmiko Adi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Pertamina bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Solo melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah rumah makan yang terindikasi masih menggunakan elpiji ukuran 3 kg atau gas melon, Kamis (27/9/2018).

Pada kegiatan tersebut tim menemukan lebih dari 100 tabung elpiji 3 kg atau elpiji bersubsidi dan langsung menukarnya dengan produk elpiji nonsubsidi.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, tim melakukan sidak di salah satu rumah makan di wilayah Jebres. Setelah meninjau dapur warung, tim kemudian membawa keluar beberapa tabung elpiji 3 kg dari dapur rumah makan tersebut.

Sedangkan petugas lain memindahkan satu per satu tabung bright gas ukuran 5,5 kg dari truk pengangkut ke dapur rumah makan. Sebagian petugas lainnya berbincang dengan pemilik rumah makan.

Setelah selesai, tim berpindah ke warung soto di wilayah Stabelan, Banjarsari, dan melakukan hal yang sama. Kabid Pengembangan Perdagangan Dinas Perdagangan (Disdag) Solo, Kristiana, mengatakan kegiatan tersebut sebagai monitoring penggunaan elpiji bersubsidi yang saat ini hanya dibatasi untuk masyarakat miskin atau pelaku usaha mikro.

Rumah makan yang disasar sidak tersebut dinilai sudah cukup besar dan tidak layak menggunakan elpiji 3 kg bersubsidi. Tim sidak dari Pertamina langsung mengganti elpiji 3kg bersubsidi dengan produk nonsubsidi.

Setiap dua tabung elpiji 3 kg diganti satu tabung bright gas ukuran 5,5 kg. Berdasarkan data dari tim sidak, dalam sehari itu tim menyasar 11 warung makan. Di setiap warung yang dituju, tim menemukan tabung elpiji 3 kg bersubsidi dengan jumlah beragam.

Ada warung yang memiliki dua tabung. Ada pula yang memiliki tabung elpiji 3 kg hingga lebih dari 20 tabung. Bahkan warung bakso di Mojosongo memiliki 37 tabung elpiji 3 kg bersubsidi.

Total ditemukan 146 tabung elpiji 3 kg bersubsidi. Sedangkan jumlah tabung bright gas yang ditukarkan sebanyak 75 tabung.

Manager Communication and CSR MOR 4 Pertamina, Andar Titi Lestari, mengimbau pangkalan dan agen tidak menjual atau mengirimkan tabung elpiji 3 kg bersubsidi kepada rumah makan besar.

"Jika ada pangkalan dan bahkan agen yang mengirimkan langsung elpiji 3 kg ke rumah makan besar, akan kami berikan sanksi," kata dia, Kamis.

Sanksi terberat bisa sampai pemutusan hubungan usaha. Melalui kegiatan tersebut, ke depan agen maupun pangkalan diharapkan bisa lebih tepat dalam menyalurkan elpiji 3 kg.

Sales Executive Elpiji Pertamina Soloraya, Adeka Sangtraga Hitapriya, mengatakan kegiatan sidak tersebut juga untuk sosialisasi penggunaan elpiji 3 kg. Bagi pihak yang tidak berhak menggunakannya diberikan kemudahan beralih ke produk lain.

"Harapanya ke depan semakin banyak pelaku usaha kecil menengah besar yang sadar dan menggunakan elpiji sesuai peruntukannya, yaitu elpiji nonsubsidi," jelas dia.