Asyik, Ada Bengawan Solo Park di TSTJ

Rencana pengembangan Bengawan Solo Park di Taman Satwa Taru Jurug - Rahmanto Iswahyudi
28 September 2018 22:54 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

Solopos.com, SOLO--Nilai investasi untuk membangun Bengawan Solo Park mencapai Rp22 miliar. Bengawan Solo Park akan menggunakan lahan seluas dua hektare di pinggir Bengawan Solo yang memadukan Solo masa lalu dan Solo masa kini.

Konsep itu disampaikan Direktur PT Warna Bhuana Indonesia (WBI) Herman Adriyanto selaku investor Bengawan Solo Park kepada wartawan seusai penandatanganan perjanjian kerja sama PT WBI dan Perusahaan Umum Daerah (Perumda) TSTJ di Sanggar Gesang TSTJ, Jebres, Jumat (28/9/2018).

“Kami sejak lama mengincar TSTJ untuk dikembangkan sebagai objek wisata. Kala itu masih bersama Wali Kota Joko Widodo, [kami] ingin mewujudkan TSTJ menjadi nomor enam terbaik di dunia,” kata Herman.

Namun realisasi kerja sama pengelolaan objek wisata bersama TSTJ baru bisa direalisasikan saat ini. Sesuai konsep, TSTJ akan dikembangkan sebagai objek wisata baru dengan brand Bengawan Solo Park. Brand tersebut dinilai penting karena melihat potensi Bengawan Solo sangat besar dan menjadi destinasi wisata Indonesia yang lebih hebat di dunia. Bengawan Solo Park dibagi menjadi empat zona, yaitu community park zone, creative lifestyle zone, e-sport zone, dan walking museum zone. Pada tahap pertama, PT WBI akan membangun community park dan dijadwalkan selesai Juni 2019.

"Di zona community park akan ada wahana wisata untuk menampung komunitas-komunitas seperti di THR [Taman Hiburan Remaja] Sriwedari dahulu. Pembangunannya kami prioritaskan agar akhir 2018 dapat digunakan," kata Herman.

Selain itu pembangunan zona e-sport untuk mewadahi generasi milenial. Konsepnya akan dibangun War Battle Stadium, yakni ruangan khusus para gamers, ruang siar on air live streaming, dan show dengan didesain futuristik. Pusat  olahraga elektronik atau e-sport tersebut akan dibangun berstandar internasional. “Dari sini kami ingin memunculkan atlet-atlet e-sport,” kata Herman.

Pengembangan selanjutnya adalah zona walking museum. Di zona ini pengunjung akan dibawa ke masa lalu melalui patung-patung kehidupan saat zaman purba. Situs manusia purba di Sangiran menjadi salah satu warisan budaya dan keilmuan membanggakan bangsa Indonesia. Edukasi mengenai perkembangan manusia purba akan hadir di walking museum zone ini. “Jadi kami akan membawa pengunjung ke masa lalu dan masa kini melalui zona e-sport,” kata Herman.

Museum Gesang di TSTJ juga jadi bagian pengembangan. PT WBI akan menyulap museum dengan mempertahankan monumen Gesang untuk mengenang maestro keroncong Indonesia yang terkenal dengan lagu Bengawan Solo. Selama ini Taman Gesang TSTJ dalam keadaan tak terurus. Bahkan panggung musik dan tribune tersisa tiang-tiang beton dan tempat duduk penonton. “Kami ingin kembalikan kejayaan Solo yang tidak pernah tidur dengan hadirnya Bengawan Solo Park,” kata Herman.

Wakil Wali Kota (Wawali) Solo Achmad Purnomo mengingatkan pengelolaannya jangan hanya berorientasi komersial agar objek wisata tersebut dapat dinikmati masyarakat luas. Dia berharap kehadiran Bengawan Solo Park mengangkat pamor TSTJ yang mengemban misi konservasi di kebun binatang.

“Ada Taman Pelangi, Kolam Keceh dan sekarang akan hadir Bengawan Solo Park. Saya harapkan TSTJ bisa menjadi destinasi nomor satu di Jawa Tengah,” kata Herman.