Daerah Kekeringan Wonogiri Terbanyak di Jateng

Peneliti Ahli Bidang Hidrologi BPPTPDAS Surakarta, Irfan Budi Pramono, memberi keterangan saat konferensi pers di kantor setempat, Kamis (27/9 - 2018). (Solopos/Iskandar)
28 September 2018 07:15 WIB Iskandar Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Peneliti Ahli Bidang Hidrologi Balai Penelitian Pengembangan Teknologi Daerah Aliran Sungai (BPPTPDAS) Surakarta, Irfan Budi Pramono, mengungkapkan di Jateng ada 18 daerah yang mengalami krisis air pada musim kemarau ini.

Dari 18 daerah ini, Kabupaten Wonogiri merupakan wilayah dengan sebaran potensi kekeringan terbanyak di Jateng. “Hampir 70 persen daerah di Wonogiri sangat rentan kekeringan. Masalah ini sudah sangat lama. Namun Badan Penanggulangan Bencana Daerah [BPBD] selama ini hanya mengatasi dengan dropping air,” ujar dia menjawab pertanyaan wartawan pada konferensi pers di Kantor BPPTPDAS di Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Kamis (27/8/2018).

Menurut dia, ibarat menangani orang sakit, langkah dropping air bukan penyembuhan tetapi hanya untuk mengurangi rasa sakit. Sementara sumber penyakitnya belum tertangani.

Untuk jangka menengah dan jangka panjang, dia mengaku sudah mengusulkan kepada pihak-pihak berwenang. Namun pihak berwenang ternyata ada prioritas-prioritas lain yang harus ditangani.

Dia mencontohkan BPPTPDAS Surakarta bersama UNS telah memberi contoh di Nguntoronadi, Wonogiri, dengan mengubah lahan-lahan miring menjadi agroforestry. Tapi dia mengakui langkah itu baru bisa dilakukan setelah melalui proses tawar-menawar panjang selama satu tahun.

“Mereka meminta kalau ditanami tanaman minta tanaman keras yang memberi keuntungan besar. Ketika itu mereka minta durian, tetapi kami katakan kalau tanaman durian ditanam di tempat itu tidak bisa berbuah karena terlalu panas. Akhirnya ditanami mangga dan jati unggul sehingga dalam beberapa hal bisa dijadikan contoh,” papar dia.

Namun, karena keterbatasan dana, BPPTPDAS Surakarta hanya bisa mengatasi sekitar 100 hektare sampai 200 hektare lahan di Wonogiri. Dia menjelaskan krisis air merupakan masalah global dan terjadi di mana-mana.

Faktor penyebabnya ada berbagai macam di antaranya karena pertambahan penduduk. Selain itu juga terjadi percepatan perubahan iklim.

Sebenarnya, ujar dia, hujannya relatif sama, tapi hujan itu mengumpul pada saat-saat tertentu misalnya musim penghujan, hujannya lebih deras.

Dia menambahkan kekeringan dibagi dalam beberapa tipe di antaranya kekeringan meteorologis yaitu kekeringan yang curah hujannya di bawah normal. Kekeringan hidrologis yaitu kekeringan akibat kekurangan pasokan air permukaan dan kekeringan agronomis yaitu akibat lengas tanah berkurang sehingga tanaman tidak bisa tumbuh lagi.

Hal itu terjadi akibat banyak faktor, tapi yang utama karena faktor meteorologi yaitu cuacanya berkurang dan juga akibat El Nino yang siklusnya empat tahunan sehingga pada empat tahun sekali suatu daerah mengalami kekeringan.

Setelah itu diselingi La Nina yaitu musim basah. Faktor penyebab kekeringan lainnya adalah faktor hidrologi yaitu karena berkurangnya kapasitas infiltrasi.

Hal itu terjadi karena ada pengembangan lahan. Yang dulunya lahan pertanian dijadikan permukiman, lahan perkebunan, maupun hutan digunakan untuk tanaman semusim sehingga kemampuan tanah menyerap air jadi berkurang.

Faktor sosial ekonomi yaitu penggunaan lahan yang tidak sesuai di daerah peresapan air. Karena masyarakat terdesak menanami daerah-daerah dengan kemiringan tertentu dengan tanaman semusim sehingga peresapan airnya berkurang.

Sementara itu, Kepala BPPTPDAS Nur Sumedi mengatakan untuk peningkatan jangka menengah dan panjang perlu kebersamaan. Menurut dia, ada beberapa sektor yang sudah bergerak ke arah yang tepat.

“BPPTPDAS mempunyai persemaian permanen di Jumantono sehingga dalam satu tahun lebih dari 1 juta bibit dibagikan gratis untuk ditanam. Pendekatan komprehansif antarsektor perlu dikembangkan,” papar dia.