Aduh, Jateng Peringkat III Penyalahgunaan Narkoba

Ratusan peserta mengikuti sosialisasi Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) di Tjokro Hotel Klaten, Jumat (28/9/2018).(Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
28 September 2018 20:00 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah (Jateng) menggencarkan sosialisasi Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN). Hal itu menyusul Jateng peringkat ketiga pasar narkoba terbanyak di Indonesia.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNNP Jateng, Susanto, menjelaskan secara nasional angka penyalahgunaan narkoba mencapai 4 juta hingga 5 juta jiwa dengan rentang usia 10 tahun hingga 59 tahun. Dari jumlah itu, 1,5 juta jiwa mencoba mengonsumsi narkoba, 1,4 juta jiwa teratur mengonsumsi narkoba, dan 943.000 merupakan pecandu.

Sementara itu, di Jateng ada sekitar 400.000 jiwa penyalahguna narkoba. Dari jumlah itu, Jateng masuk peringkat ketiga setelah Jawa Barat (Jabar) dan Jawa Timur (Jatim) terkait jumlah penyalahgunaan narkoba tertinggi di Indonesia. Jumlah terbanyak penyalahguna narkoba di Jateng yakni pekerja dengan persentase 57 persen. Sementara, penyalahgunaan narkoba dari kalangan pelajar dan mahasiswa sekitar 27 persen.

Susanto menjelaskan mayoritas narkoba yang beredar di Indonesia berasal dari luar negeri. Indonesia menjadi sasaran peredaran narkoba lantaran tingginya harga barang haram tersebut. Susanto mencontohkan harga sebutir ekstasi di China Rp3.000. Di Malaysia, harga sebutir ekstasi senilai Rp40.000.

Kalau dijual di Indonesia harganya bisa mencapai Rp400.000 sebutir,” kata Susanto saat menjadi narasumber dalam Forum Sosialisasi P4GN di salah satu hotel di Klaten, Jumat (28/9/2018).

Lantaran hal itu, pasar peredaran narkoba harus terus ditekan. Salah satunya melalui program P4GN. Sosialisasi dimaksudkan untuk memahamkan warga terkait tingkat darurat narkoba, upaya yang bisa dilakukan menghindari penyalahgunaan narkoba, serta aturan hukum penyalahgunaan narkoba.

Langkahnya menerapkan P4GN secara sinergitas. Tidak hanya, BNN tetapi seluruh komponen harus terlibat. Kemudian melakukan upaya menekan pasokan dan permintaan. Dimana Indonesia pecandunya banyak harganya tinggi. Ketika ditekan dengan permintaan semakin menurun, harga juga turun,” jelas Susanto.

Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo), Rosarita Niken Widiastuti, mengatakan jumlah pengguna narkoba di Indonesia menurun menjadi 4 juta jiwa dibanding awal tahun lalu sekitar 5 juta jiwa.

Meski angkanya menurun tetapi tetap harus diwaspadai. Tentunya kepada generasi muda jangan pernah bersentuhan dengan narkoba,” kata Rosarita dalam sambutannya.

Sementara itu, sosialisasi yang digelar pagi itu melibatkan ratusan orang perwakilan di antaranya organisasi kepemudaan, OSIS, pramuka, mahasiswa, pejabat, pegiat media sosial (medsos), TNI, polri, serta pegiat antinarkoba. Kegiatan itu digelar Dinas Komunikasi Informatika (Diskominfo) Klaten.

Melalui sosialisasi ini kami harapkan bisa menekan dan mencegah peredaran narkoba terutama di Klaten. Kominfo juga bisa berperan untuk upaya mencegah salah satunya pada penyebaran informasi bahaya narkoba,” kata Plt Kepala Diskominfo Klaten, Sri Winoto.