Butuh Rp300 Juta untuk Bangun Wisata Air di Harjosari Karanganyar

Jembatan Sejlamprang dibangun di Harjosari, Karangpandan, Karanganyar, Senin (24/9 - 2018). (Solopos/Ponco Suseno)
29 September 2018 19:00 WIB Ponco Suseno Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Pemerintah Desa (Pemdes) Harjosari, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar,  bakal menyiapkan anggaran senilai Rp300 juta guna membangun wisata air di desa setempat di tahun mendatang.

Berbekal pengembangan wisata air, Pemdes Harjosari meyakini dapat meningkatkan pendapatan asli desa (PADesa) naik hingga dua kali lipat.

Berdasarkan data yang dihimpun solopos.com, Desa Harjosari telah memiliki bendungan Jlamprang sejak tahun 1970-an. Air yang melimpah di bendungan tersebut difungsikan mengairi areal pertanian di daerah Karangpandan, Mojogedang, hingga mendekati kawasan Karanganyar kota.

Secara kebetulan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar membangun jembatan Sejlamprang di dekat bendungan tersebut. Jarak jembatan yang dibangun pemkab dengan bendungan Jlamprang kurang dari 50 meter. Jembatan Sejlamprang yang menelan anggaran hampir Rp2 miliar diharapkan rampung di akhir tahun 2018.

“Kawasan bendungan Jlamprang seluas kurang lebih 1.500 meter persegi. Di kawasan ini juga ada aliran irigasi yang dapat dijadikan objek wisata tubing. Di sekitar bendungan juga dapat dimaksimalkan dengan wisata air lainnya sekaligus disediakan kuliner desa. Di sekitar bendungan juga bisa dibangun semacam waduk kecil. Pokoknya nanti di lokasi ini dapat menjadi lokasi swafoto yang menarik,” kata Kepala Desa (Kades) Harjosari, Sutarso, Jumat (28/9/2018).

Sutarso mengaku sedang menyusun desain wisata air yang akan dibangun di tahun 2019. Pemdes Harjosari juga siap menyiapkan anggaran senilai Rp300 juta guna mendukung rencana pembangunan wisata air itu.

“Dana yang disiapkan senilai Rp300 juta. Nantinya, wisata air dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa)di Harjosari. Kami meyakini dengan wisata air itu, PADesa di Harjosari akan naik hingga dua kali lipat. Saat ini, PADesa Harjosari hanya mengandalkan sewa lahan kas desa senilai Rp189 juta per tahun,” katanya.

Selain diproyeksikan dapat menggaet pengunjung asal Karanganyar dan sekitarnya, lanjut Sutarso, objek wisata air di Harjosari diharapkan juga dapat menyerap tenaga kerja di desa setempat.

“Secara otomatis ketika wisata air sudah berdiri, kami akan memaksimalkan program padat karya,” katanya. (Ponco Suseno)