Kisah Cinta Matah Ati-Raden Mas Said di Asale Gunung Wijil Wonogiri

Lingkungan Gunung Wijil yang berkaitan dengan asal Raden Ayu Matah Ati di Kelurahan Kaliancar, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Jumat (14/9 - 2018). (Solopos/Ichsan Kholif Rahman)
29 September 2018 20:00 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Lingkungan Gunung Wijil, Kelurahan Kaliancar, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, memiliki cerita tersendiri bagi masyarakatnya. Tepat di ujung lingkungan atau perkampungan ini terdapat Astana Giri yakni makam Bendara Raden Ayu Matah Ati istri Raden Mas Said.

Bendara Raden Ayu Matah Ati memiliki nama kecil Roro Rubiyah. Berasal dari Dusun Matah di sekitar Gunung Wijil di wilayah Desa Singodutan saat ini. Bendara Raden Ayu Matah Ati merupakan seorang putri dari Kiai Kasan Nur Iman, seorang pemuka agama dari Dusun Matah.

Juru Kunci Astana Giri, Rukiman, saat ditemui solopos.com di Astana Giri, Kamis (13/9/2018), mengatakan Gunung Wijil dahulunya adalah Gunung Pencil dan baru berubah nama ketika Bendara Raden Ayu Matah Ati dimakamkan di Astana Giri, Lingkungan Gunung Wijil.

“Bendara Raden Ayu Matah Ati merupakan seorang pejuang gigih, ia setia menemani suaminya, Pangeran Sambernyawa, hingga 16 tahun,” ujar Rukiman.

Nama Matah Ati cukup familiar di Soloraya. Kisah hidup romantis dan perjuangannya sering kali diangkat dalam kisah pertunjukan seni yang bahkan dipentaskan hingga luar negeri.

Rukiman menambahkan saat Bendara Raden Ayu Matah Ati dimakamkan lebih dari 200 tahun lalu, Lingkungan Gunung Pencil berisi enam rumah warga. Semenjak itu, nama Gunung Pencil diubah menjadi Lingkungan Gunung Wijil.

Menurutnya, saat Bendara Raden Ayu Matah Ati meninggal dunia terdapat dua tempat yang hendak dijadikan tempat peristirahatan terakhirnya. Kedua tempat itu di sekitar Gunung Wijil dan Gunung Pencil yang memiliki tanah yang wangi.

Namun sesuai dengan permintaan Bendara Raden Ayu Matah Ati, dia dimakamkan di Astana Giri, Gunung Pencil, yang kini berubah nama menjadi Gunung Wijil sebagai wujud penghormatan kepada istri Pangeran Sambernyawa dengan menamakan daerah asalnya.

Bendara Raden Ayu Matah Ati digambarkan sebagai wanita cantik yang memiliki kemampuan ilmu yang luar biasa. Hingga akhirnya, Raden Mas Said yang saat itu sedang berperang dari Keraton Kartasura bergeser ke daerah Nglaroh, Kecamatan Selogiri.

Di Nglaroh, Kecamatan Selogiri, sekitar satu kilometer dari makam Bendara Raden Ayu Matah Ati, dahulu sering diadakan pentas wayang kulit yang menjadi kegemaran warga. Pementasan wayang yang digelar semalam suntuk, membuat para penonton terlelap saat itu.

Roro Rubiyah yang belum dewasa pun terlelap. Pangeran Sambernyawa terkejut ketika melihat seorang Rubiyah memancarkan sinar, lantas ia mengutus rekannya memberi sebuah tanda pada kain yang ia kenakan.

Hingga akhirnya, Pangeran Sambernyawa mencari melalui tanda itu dan menemukan Rubiyah. Pangeran Sambernyawa menunggu Rubiyah dewasa untuk dinikahi. Ia setia bersama Pangeran Sambernyawa dalam berjuang melawan Belanda.

Ada 26 pengawal wanita yang setia pada Bendara Raden Ayu Matah Ati. Bahkan 26 prajurit pun meminta untuk dimakamkan berdekatan dengan pemimpinnya, Bendara Raden Ayu Matah Ati yang meninggal pada 1814.