PMI Solo Kirim 7 Sukarelawan dan Galang Dompet Peduli Gempa Palu

Tim SAR menyelamatkan warga yang tertimbun reruntuhan di Perumnas Bala Roa, Palu, Minggu (30/9 - 2018). (Antara/Darwin Fatir)
30 September 2018 18:35 WIB Ivan Andimuhtarom Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Solo mengirim tujuh sukarelawan untuk membantu korban bencana gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, Minggu (30/9/2018).

Di sisi lain, PMI akan bekerja sama dengan Solopos menggalang dana berbentuk Dompet Peduli mulai Senin (1/10/2018). CEO PMI Kota Solo, Sumartono Hadinoto, mengatakan sudah dikontak PMI Pusat dan ditunjuk menjadi salah satu PMI yang akan membantu para korban gempa dan tsunami di Palu.

Ia mempersiapkan tujuh personel. "Personel yang kami kirim ada satu dokter, satu apoteker, dua perawat, dan tiga sukarelawan. Salah satu sukarelawan adalah mahasiswa Akbara berasal dari Palu. Dia bertugas menjadi guide karena dia mengenal wilayah tersebut," ujarnya saat dihubungi Solopos.com, Minggu petang.

Para sukarelawan akan berangkat dari Bandara Adi Sucipto Jogja, Minggu malam. Mereka tak langsung ke Palu karena menurut informasi bandara setempat belum dapat digunakan.

"Sukarelawan terbang ke Balikpapan kemudian menginap semalam di sana. Senin pagi mereka pergi ke Mamuju. Dari Mamuju, sukarelawan akan ke Palu melalui jalur darat. Estimasi waktu yang diperlukan untuk perjalanan darat 8-10 jam. Kami belum tahu kondisi jalan di sana," papar dia.

Menurut Sumartono, situasi Palu sangat memprihatinkan. Bahkan, korban meninggal dunia lebih banyak dibanding korban gempa Lombok, Nusa Tenggara Barat, karena tsunami yang tak terduga.

"Selain bekerja sama dengan Solopos untuk Dompet Peduli, kami berencana mengundang seluruh stakeholders terkait, khususnya yang tergabung dalam Solo Bersama Selamanya dan mengajak mereka bersama-sama membantu para korban," tuturnya.

Para sukarelawan belum membawa logistik bantuan karena situasi yang belum jelas. Setelah sampai di lokasi, sukarelawan baru bisa mengabarkan kebutuhan para korban.

"Ini komunikasi masih sulit walau PT Telkom memasang wifi. Semoga kondisi ini bisa segera teratasi," tuturnya.