Bayi Baru Lahir Terpaksa Ngungsi karena Bau Limbah PT RUM Sukoharjo

Warga Dukuh Badran Kenteng, Desa Pengkol, Nguter, Sukoharjo, menunggui bayi yang mengungsi di Balai Kesehatan Desa Pengkol, Sabtu (29/9 - 2018). (Istimewa/Suwarno)
30 September 2018 11:35 WIB Trianto Heri Suryono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Warga Dukuh Tegalrejo dan Dukuh Badran Kenteng, Desa Pengkol, Kecamatan Nguter, Sukoharjo, terpaksa mengungsi karena tak tahan bau yang diduga dari limbah PT Rayon Utama Makmur (RUM), Desa Plesan, Nguter, Sabtu (29/9/2018). 

Seorang bayi yang baru lahir dua hari sebelumnya di Balai Kesehatan Desa (BKD) Pengkol bahkan tak diperoleh pulang ke rumahnya karena kondisi lingkungan rumahnya dinilai tak sehat akibat bau busuk. 

Bayi itu anak pasangan suami istri Eko Susilo dan Neng Maryati, warga Badran Kenteng RT 002/RW 004, Desa Pengkol, Nguter. Informasi yang dihimpun Solopos.com, bau yang diduga dari limbah PT RUM muncul sejak uji coba dilakukan pekan lalu. 

Seorang warga yang berada di lokasi pengungsian, Jono, bercerita bayi itu diinapkan di balai kesehatan desa dan belum boleh dibawa pulang karena kondisi lingkungan rumahnya dinilai tidak sehat. 

“Bayi itu seharusnya pulang [Sabtu] sekitar pukul 12.30 WIB tetapi oleh dokter tidak diperbolehkan karena situasi lingkungan rumah berbau. Bayi diungsikan dan menginap di BKD Pengkol,” ujarnya.

Dia mengatakan selain bayi perempuan itu, warga berusia dewasa dan tua juga mengungsi ke balai desa. Menurutnya, perwakilan PT RUM, yakni Haryo, Sugeng, dan Atik sudah datang menemui warga dan warga menyampaikan keinginan mereka hanyalah udara yang tidak berbau lagi. 

“Saya tidak tahu secara pasti Pak Haryo, Pak Sugeng, dan Bu Atik bicara apa kepada warga tetapi warga hanya menginginkan udara kembali bersih sehingga warga bebas menghirupnya. Sampai hari ini [Sabtu] masih tercium bau.”

Pada bagian lain, Jono heran kenapa PT RUM masih beroperasi sedangkan Bupati sudah mengirimkan surat permintaan penghentian operasional. “Asumsi saya, penghentian operasional dilakukan sejak tanggal surat tetapi kok hari ini tidak berhenti.”

Hal senada disampaikan Pembina Masyarakat Peduli Lingkungan (MPL) Sukoharjo, Ari Suwarno. “Warga Dukuh Badran Kenteng, Pengkol baru dua hari melahirkan terpaksa mengungsi ke Balai Desa Pengkol karena diduga mencium bau pencemaran PT RUM.”

Sementara itu, Sekretaris PT RUM, Bintoro Dibyoseputro, mengakui pada Sabtu sore didatangi kerabat dari bayi yang baru dilahirkan dan terpaksa mengungsi di BKD Pengkol. Kedatangan mereka didampingi anggota MPL. 

“Karena takut pulang kemudian mereka berdiam di kantor desa. Pak Haryo dan kawan-kawan [PT RUM] langsung menyambangi keluarga dan bayi yang baru lahir. Hal-hal seperti inilah prioritas PT RUM untuk membantu secara maksimal, termasuk tawaran apabila ingin istirahat di rumah sakit tetapi usulan ke rumah sakit tidak diterima dan keluarga beserta bayi memutuskan tinggal di pelayanan kesehatan Desa Pengkol.”

Dia menyatakan PT RUM siap 24 jam untuk membantu hal-hal darurat sembari kerja keras membenahi penyempurnaan mesin produksi dan pengolah limbah. 

“Secara teknis pabrik sudah dinonaktifkan namun tidak bisa langsung mati secara mendadak. Yang menyala adalah pembangkit uap untuk proses pemanas. PT RUM baru on pada 21 September. Ada dua Lines of Production A & B masing-masing satu tahun bisa menghasilkan 40.000 ton serat sehingga total 80.000 ton per tahun.”

Dia membandingkan dua pabrik yang sama di Purwakarta yakni Indo Barrat Rayon dan South Pacific Viscose yang sudah beroperasi dengan kapasitas per pabrik di atas 200.000 ton per tahun. 

“Sepekan ini kami baru mulai mencoba 10 ton hingga 15 ton per hari sambil menyetèl bagian-bagian yang perlu disempurnakan agar ketahuan di titik mana perlu penyempurnaan,” jelasnya.