Warga Terdampak Limbah PT RUM Sukoharjo Bertahan di Pengungsian

Sejumlah warga datang ke Balai Desa Pengkol, Kecamatan Nguter, Sukoharjo, untuk mengungsi, Minggu (30/9 - 2018). (Solopos/Bony Eko Wicaksono)
30 September 2018 15:15 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Puluhan warga dua desa di Kecamatan Nguter, Sukoharjo, masih bertahan di balai desa setempat lantaran tak kuat menghirup bau tak sedap yang diduga dari limbah pabrik PT Rayon Utama Makmur (RUM).

Pantauan Solopos.com, Minggu (30/9/2018), puluhan warga Desa Pengkol dan Desa Gupit, Kecamatan Nguter, mengungsi di balai desa masing-masing. Sebagian warga beristirahat beralaskan tikar.

Sementara sebagian warga lainnya duduk-duduk sembari mengobrol dengan warga lainnya. Mereka tak kuat mencium bau tak sedap sejak manajemen PT RUM melakukan uji coba produksi mulai pertengahan September lalu.

Bau busuk dari pabrik kian menyengat hidung setiap harinya. Bahkan, bau limbah udara itu lebih menyengat dibanding akhir 2017 lalu. Lantaran tak kuat, puluhan warga berduyun-duyun mengungsi ke balai desa setempat pada Sabtu (29/9/2018).

“Lebih parah, lebih menyengat hidung [limbah udara] dibanding tahun lalu. Baunya seperti kopi bikin pusing. Rumah saya tepat di belakang kolam pengolahan limbah pabrik,” kata seorang warga Desa Gupit, Kecamatan Nguter, Jiyem, saat berbincang dengan Solopos.com, Minggu.

Jiyem dan puluhan warga lainnya terpaksa mengungsi ke balai desa setempat pada Sabtu malam. Mereka lega bisa menghirup udara segar kendati harus tidur beralas tikar. Sebagian besar warga yang mengungsi adalah kalangan ibu-ibu dan anak-anak.

Wanita lanjut usia (lansia) ini meminta agar manajemen PT RUM menghentikan uji coba produksi lantaran menimbulkan limbah udara yang merugikan warga setempat. “Masker penutup hidung tak mempan karena saking menyengatnya limbah udara. Saya tak bisa tidur nyenyak jika mencium bau,” ujar dia.

Di Desa Pengkol, puluhan warga juga mengungsi ke balai desa setempat lantaran tak kuat menghirup limbah udara dari pabrik itu. Mereka memilih bertahan di balai desa sebelum limbah udara dari pabrik benar-benar hilang.

Pembina Masyarakat Peduli Lingkungan (MPL) Sukoharjo, Ari Suwarno, menyatakan Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya, telah menerbitkan surat yang isinya meminta manajemen PT RUM menghentikan sementara uji coba produksi pada pekan lalu.

S emestinya, manajemen PT RUM menindaklanjuti dengan menghentikan uji coba produksi. Sementara itu, Sekretaris PT RUM, Bintoro Dibyoseputro, mengatakan berbagai upaya telah dilakukan PT RUM untuk menghilangkan bau limbah mulai dari memasang continuous emission monitoring system (CEMS), web scrubber, dan jaringan perpipaan yang ditanam di bawah tanah.

Dalam waktu dekat, PT RUM bakal memasang alat pendeteksi emisi gas buang atau continuous ambient monitoring system (CAMS). “Alat ini sangat akurat dan objektif. Jika ada limbah udara yang tercatat alat CAMS, PT RUM tidak bisa berkilah. Kami justru meminta feedback dari warga setempat yang kerap mencium bau,” kata dia.