Warga Desa Manang Manfaatkan Sampah Plastik Bangun Ekonomi Kreatif

Sejumlah warga memperlihatkan replika ular naga raksasa yang terbuat dari bekas botol bekas air kemasan di Lapangan Desa Manang, Minggu (23/9 - 2018). (Solopos/Bony Eko Wicaksono)
30 September 2018 20:50 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO—Desa Manang, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, memiliki beragam potensi industri pangan hingga ekonomi kreatif. Wilayah Desa Manang yang terletak di kawasan satelit Kota Solo menjadi salah satu daya ungkit untuk menghidupkan perekonomian desa.

Selama ini, Desa Manang menjadi sentra pembuatan tempe berbungkus daun yang tersebar di sejumlah dusun. Industri rumah tangga pembuatan tempe menjadi matapencaharian sebagian warga setempat. Jumlah pengrajin tempe di wilayah itu lebih dari 30 orang. Mereka mengolah kedelai menjadi tempe hampir setiap hari.

Produk tempe berbungkus daun tak hanya dipasarkan ke sejumlah pasar desa di wilayah Grogol melainkan pasar tradisional di wilayah Sukoharjo. Misalnya, Pasar Telukan dan Grogol yang selalu ramai pembeli saat pagi hari.

Selain industri rumah tangga pembuatan tempe, warga setempat yang diinisiasi anggota karang taruna cukup kreatif memanfaatkan sampah plastik. Mereka membuat beragam barang yang terbuat dari sampah plastik yang didaur ulang dan.

“Sampah plastik diolah menjadi barang yang mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi. Setiap rukun tetangga (RT) membuat barang yang berasal dari sampah plastik,” kata Ketua Karang Taruna Desa Manang, Eko Maryanto, saat berbincang dengan Solopos.com, Minggu (23/9/2018).

Kreativitas warga dalam membuat barang yang terbuat dari sampah plastik diasah. Mereka berlomba-lomba membuat barang unik dan menarik namun layak jual. Misalnya, gaun, topi atau gaun yang terbuat dari berbagai sampah plastik seperti bekas kemasan sampo.

Bahkan, sejumlah warga lainnya membuat berbagai macam replika kendaraan tempur atau ular naga raksassa yang terbuat dari sampah plastik. “Kami ingin menggaungkan gerakan peduli lingkungan terhadap warga. Mereka bisa memanfaatkan sampah plastik yang didaur ulang menjadi barang unik atau barang layak jual,” ujar dia.

Sementara itu, Kepala Desa Manang, Sumarno, mengapresiasi upaya warga setempat dalam gerakan peduli lingkungan lewat pembuatan barang dari sampah plastik. Hal ini membuktikan warga setempat memberikan kontribusi nyata untuk wilayah tempat tinggalnya.

Barang-barang yang terbuat dari sampah plastik itu merupakan produk kreatif sebagai salah upaya peningkatan ekonomi desa. Tentu saja, ide-ide kreatif warga harus disokong instansi terkait agar mampu menjadi virus positif yang menular ke desa-desa lainnya. “Saya mengapresiasi ide kreatif warga yang mampu membuat produk dari sampah plastik. Ini bakal menjadi keunikan Desa Manang,” kata dia