5 Hektare Hutan Gunung Kukusan Wonogiri Terbakar

Petugas memadamkan api di lahan milik Perhutani, Gunung Kukusan, Kelurahan Giriwono, Kecamatan/Kabupaten Wonogiri, Sabtu (29/9 - 2018) siang. (Istimewa/BPBD Wonogiri)
30 September 2018 20:15 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Lahan hutan negara seluas kurang lebih 5 hektare milik Perhutani di Wonogiri terbakar pada Sabtu (29/9/2018).

Lahan itu tepatnya berada di Gunung Kukusan Petak 24 Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Pulosari Badan Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Wonogiri Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Surakarta yang masuk wilayah Kelurahan Giriwono, Kecamatan/Kabupaten Wonogiri.

Berdasarkan data yang dihimpun Solopos.com, ini merupakan kebakaran lahan keenam di Kecamatan Wonogiri setelah sebelumnya pada 2017 terjadi empat kasus kebakaran. Kondisi musim kemarau yang membuat kawasan Gunung Kukusan menjadi kering dan rawan kebakaran.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri kepada Solopos.com, Minggu (30/9/2018). mengatakan kebakaran itu kali pertama diketahui warga sekitar pukul 12.00 WIB. Api terus membesar dan mendekati pemukiman warga. Warga lalu segera melapor ke BPBD.

“Tim reaksi cepat segera meluncur ke lokasi dibantu pemadam kebakaran dan warga sekitar. Memerlukan waktu hampir empat jam untuk memadamkan api seluas lima hektare tersebut,” ujar Bambang Haryanto.

Penyebab kebakaran hingga saat ini masih belum diketahui. Akibat kebakaran tersebut lahan seluas lima hektare dengan beberapa tanaman tegakan terbakar. Tidak ada korban jiwa dalam kebakaran tersebut.

Ia mengimbau masyarakat tidak membakar sampah terlebih saat musim kemarau panjang seperti saat ini. Sampah sebaiknya diolah seperti dengan melakukan proses pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan, dan daur ulang.

Selain dapat memicu kebakaran, membakar sampah dapat membuat tanah merekah. Rekahan tanah dalam intensitas tinggi dengan tingkat kemiringan tinggi dapat memicu tanah longsor.

Kepala Bidang Pertamanan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Wonogiri, Toto Prasojo, beberapa waktu lalu mengatakan sesuai undang-undang membakar sampah tidak diperbolehkan. Saat ini sampah dapat diolah melalui teknologi pengolahan sampah yang dibakar dan diambil gas hasil pembakaran tersebut menggunakan teknologi khusus.

Ia berharap masyarakat dapat memanfaatkan sampah yang didaur ulang menjadi pupuk dan melakukan upaya pengurangan sampah seperti penggunaan kembali plastik.