Komponis Gending Sragenan Karno KD Dinobatkan Jadi Maestro Seni Tradisi

Komponis Gending Sragenan, Karno KD. (Solopos/Tri Rahayu)
01 Oktober 2018 19:05 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Seniman asal Sragen K.R.A.T. Muhamad Karno Kusumodiningrat atau yang akrab dikenal sebagai Karno KD meraih penghargaan maestro seni tradisi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Penghargaan itu diperoleh berkat dedikasinya melestarikan seni tari, karawitan, dan pedalangan Jawa.

Saat solopos.com menjumpai Karno KD di kediamannya di Ngarum, Kecamatan Ngrampal, Sragen, Sabtu (29/9/2018), terdengar suara motor bebek berhenti di teras rumah itu. Karno KD kemudian turun dari motor itu sambil membawa bingkisan berukuran 1 meter x 80 sentimeter.

“Pasti Anda ingin tahu ini,” kata lelaki berusia 78 tahun itu sembari menyobek kertas yang menutupi figura.

Figura itu berisi foto Karno KD beserta biodata singkat dirinya. Isi figura itu diperoleh Kemendikbud beserta piagam dan pin emas 22 karat penghargaan sebagai pelestari seni tari, karawitan, dan pedalangan Jawa.

Karno bercerita penghargaan tersebut diserahkan sendiri oleh Mendikbud Muhadjir Effendy dalam Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi 2018 di Plaza Insan Berprestasi Kemendikbud, Jakarta, Rabu (26/9/2018) malam lalu.

Karno KD menerima penghargaan itu bersama 51 seniman dan budayawan lainnya yang terbagi menjadi sembilan kategori. Ia kemudian menunjukkan sertifikat penghargaan dan pin emas seberat 10 gram kepada solopos.com.

“Saya merasa penghargaan maetro ini belum pantas untuk saya karena masih banyak seniman yang lebih senior daripada saya. Kendati demikian, saya bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Mendikbud,” ujarnya.

Sebelum menerima penghargaan, ungkap Karno, memang ada tim Kemendikbud yang hadir mewawancarainya. Ia ditanya macam-macam, termasuk bakan seninya merupakan turunan orang tua atau memang dari proses kreativitas pribadi.

Karno bertutur jiwa kreativitas seninya muncul ketika menjawab tantangan zaman. Ia khawatir seni tradisi akan tergeser dengan seni dari luar negeri. Ia tidak ingin seni tradisi Jawa punah. Selama belajar di Konservatori Solo pada 1961-1963, Karno mendalami seni karawitan, tari, dan pedalangan.

“Saya prihatin dengan masyarakat ekonomi menengah ke bawah yang tidak mampu menanggap wayangan. Setiap ada pertunjukan wayang saya hadir untuk belajar. Hingga akhirnya mendalang sesuai dengan keinginan masyarakat tetapi honornya semampu yang menanggap. Kadang-kadang saya juga tombok untuk bayar sinden,” ujarnya sembari berkelakar.

Tujuannya untuk membantu warga sekaligus pentas wayang kulit itu sebagai sarana latihan. Setelah itu, Karno juga mengembangkan seni tari dan mendapat kali pertama penghargaan dari Menteri Pos, Telekomunikasi, dan Pariwisata setelah menari di Sendra Tari Ramayana Prambanan pada 1962.

Lalu di bidang karawitan, Karno menciptakan gending-gending khas sragenan. Lebih dari 100 judul gending yang dicipta Karno KD. Gending sragenan ciptaan Karno yang fenomenal berjudul Rewel, Jamu Jawa, Ireng Manis, dan Ronggeng Gunung. Gending sragenan itu merupakan gending karawitan yang dipadukan dengan musik dangdut.

“Gending Rewel itu banyak pesanan sampai Suriname. Saat Ki Anom Suroto pentas di Prancis, permintaan gending Rewel itu bisa mencapai 64 kali. Ada juga pesanan kaset dari Papua. Pak Anom itu sempat malu gara-gara gending Rewel saat pentas di Wonokromo dan Sumatra. Gending itu saya buat pada 1984,” ujarnya.

Lebih lanjut, Karno menyampaikan dari 51 orang penerima penghargaan, hanya 10 orang di antaranya yang mendapat penyematan pin emas langsung dari Mendikbud dan Karno menjadi salah satu dari 10 orang maestro itu.

Seusai pemberian penghargaan, Karno KD didaulat untuk menjadi penutup pertunjukan dengan persiapan hanya dua menit oleh pejabat Kemendikbud. Aksi pentas Karno yang mendadak itu mampu membikin para penonton dan pejabat Kemendikbud terpukau.

Karno juga mendapat apresiasi berupa uang senilai Rp50 juta. Khusus untuk penerima penghargaan dengan predikat maestro akan mendapat apresiasi tambahan senilai Rp25 juta per tahun seumur hidup.

“Soal apresiasi, saya meminta kepada Kemendikbud supaya tidak dibeda-bedakan karena pelestari seni tradisi itu lebih sulit karena langsung mendapat cemoohan dari masyarakat yang bukan pendukung seni tradisi,” ujarnya.