Pengrajin Tenun Lurik Pedan Klaten Eksplorasi Motif Pulau

Pekerja menenun lurik di CV Warisan Multi Tenun di Pedan, Klaten, Senin (1/10/2018). (Solopos - Damar Sri Prakoso)
01 Oktober 2018 21:05 WIB Damar Sri Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Pengrajin tenun lurik asal Pedan, Klaten, terus mengeksplorasi motif pulau demi memanjakan pencinta kain khas Kabupaten Klaten ini. Sejumlah motif yang dikembangkan antara lain motif Papua, Toraja, Sumba, Rote, dan sebagainya.

Makin minimnya jumlah pengrajin tenun lurik di pulau-pulau itu menjadi peluang emas bagi pengrajin tenun asal Pedan untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

Salah satu pengrajin tenun lurik, Arif Purnawan, 50, mengaku setiap hari memproduksi kain tenun lurik untuk memenuhi pesanan konsumen yang tersebar di banyak daerah. Produk lurik tersebut merupakan hasil kerajinan dengan alat tenun bukan mesin (ATBM).

“Untuk kain polos, satu hari per orang bisa menyelesaikan [tenun lurik] 8 meter. Kalau untuk kain yang ada motifnya atau seninya, rata-rata tiap orang bisa menyelesaikan 3 meter per hari. Sebab butuh konsentrasi yang tinggi agar motif yang terbentuk sesuai pola,” kata Arif yang juga pemilik CV Warisan Multi Tenun ini saat ditemui Solopos.com di tempat kerjanya di Jl. Cawas-Pedan, Pedan, Klaten, Senin (1/10/2018).

Di Pedan ini, Arif memberdayakan 12 pekerja untuk menggenjot produksi tenun lurik ATBM. Di dua cabang lainnya di Kecamatan Trucuk yakni di Mawung dan Bero, produksi tenun masing-masing digarap 20 pekerja dan 12 pekerja. Kain tenun yang diproduksi beragam. Untuk kain lurik biasa dibanderol Rp40.000/meter, sedangkan kain sutera dilempar ke pasaran seharga Rp350.000/meter.

“Kebetulan untuk saat ini, di Papua sendiri sudah tidak ada pengrajin tenun luriknya. Begitu pula di sejumlah pulau lainnya. Karena itulah, kami mengembangkan motif pulau untuk menjangkau pasar di pulau-pulau yang telah kehilangan pengrajin aslinya itu,” kata Arif, yang juga putra maestro lurik Pedan, Raden Rahmad, ini.

Menurut dia, pelanggan tenun lurik Pedan kebanyakan merupakan orang-orang dari luar Jawa. Mereka merasa memiliki motif pulau itu, tapi di daerah asalnya sudah tidak ada pengrajinnya. “Misalnya di Toraja. Banyak sekali [orang] yang minat dengan lurik Pedan motif Toraja. Kalau pakai kain ini, prestisenya tinggi. Mereka suka glamour dan bahkan kain lurik Pedan juga dijadikan arisan,” terang dia.

Tingginya minat orang luar Jawa terhadap lurik Pedan menjadi jaminan tersendiri keberlangsungan bisnis CV Warisan Multi Tenun. Menurut Arif, omzet yang dia peroleh minimal Rp30 juta/bulan. Bahkan jika sedang banyak pesanan, omzetnya bisa tembus sampai Rp75 juta/bulan. “Produk tenun lurik kami pasarkan secara offline maupun online. Kalau offline yang mengurusi saya, kalau online yang mengurusi istri saya. Setiap hari ada saja order via online,” imbuhnya.

Menggeluti usaha tenun lurik 22 tahun ini membuat Arif kenyang asam garam perlurikan di Pedan. Sebagai generasi ketiga setelah Atmo Pawiro dan Raden Rahmad, Arif pernah merasakan masa keemasan lurik Pedan antara 1980-1990. Gubernur Jateng pada masa itu, Muhammad Ismail, menerbitkan surat keputusan (SK) Gubernur Jateng yang mewajibkan setiap PNS memakai lurik tradisional.

“Pengrajin lurik di Klaten bak jamur di musim penghujan, dan semuanya panen raya. Saya sendiri pada tahun 1980-an juga dikontrak setengah tahun untuk pengembangan lurik di Bali. Tahun 1992 saya sampai punya dua toko di Bali. Saya juga dikontrak orang Jepang sampai hasilnya bisa untuk beli tanah seluas 575 meter persegi di Pedan, yang saya tempati sampai sekarang ini,” kenangnya.

Selain memproduksi kain tenun lurik, Arif sampai sekarang juga aktif menjadi mentor pelatihan atau kursus tenun lurik di sejumlah daerah hingga luar Jawa, serta memasarkan mesin produksi ATBM buatan sendiri. (Damar Sri Prakoso)