Karanganyar Gandeng Uniba Kembangkan Pariwisata

Bupati Karanganyar, Juliyiatmono (ketiga dari kanan) menjadi pembicara pada Forum Group Discussion yang digelar Uniba, Solo, di Hotel Alana, Blulukan, Colomadu, Karanganyar, Jumat (28/9/2018). - Iskandar
01 Oktober 2018 21:06 WIB Iskandar Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR – Bupati Karanganyar, Juliyatmono mengatakan Karanganyar dikenal sebagai kabupaten Intanpari, industri, pertanian, dan pariwisata. Kawasan barat yaitu Colomadu dan Gondangrejo diproyeksikan sebagai kawasan modern, menghadirkan tata ruang dengan kemasan yang baik dengan ruang rapat dan jasa.

Menurut Bupati, Hotel Alana berdiri di Colomadu sehingga mungkin sebagian hunian hotel di Solo, ada di Alana. Ini terjadi karena akses ke Alana relatif tak terlalu ruwet, ke bandara dan tol juga dekat.

“Jadi kami sedang menangkap limpahan atau ledakan kepadatan penduduk di Solo. Kami siapkan Colomadu dan Gondangrejo. Untuk pertanian ada di tengah serta timur dan yang paling timur kawasan pariwisata. Ini sedang kami optimalkan,” kata Bupati Juliyatmono di Hotel Alana, Blulukan, Colomadu, Karanganyar, Jumat (28/9/2018).

Bupati menjadi salah satu pembicara Forum Group Discussion Program (FGD) Penelitian Pengembangan Unggulan Perguruan Tinggi (PPUPT) Program Kemenristekdikti, Peningkatan Daya Saing Perekonomian Berbasis Kearifan Lokal Kemampuan Iptek untuk Menghadapi Revolusi Industri 4.0 yang digelar Uniba.

Lebih lanjut dia mengutarakan wisata di Karanganyar merupakan satu dilema. Meski pihaknya mempunyai pesona alam tapi tak mempunyai aset. Contohnya Gunung Lawu di bawah kekuasaan Kementerian Kehutanan.

Meski demikian untuk menarik wisatawan Karanganyar tetap memanfaatkan dengan mendeklarasikan memulai groundbreaking per 17 Agustus, Bupati memulai membuat anak tangga yang direncanakan sampai ke puncak Lawu. Targetnya dua tahun selesai. Nanti semua orang bisa ke puncak Lawu dengan sensasi yang berbeda.

Di bagian lain dia menjelaskan berdasar hasil penelitian dari Kementerian ESDM, di Gunung Lawu ada sumber energi panas bumi yang bagus yang akan dimanfaatkan PLN. “Tapi masyarakat dan lingkungan menolak. Saya memberanikan diri menandatangani surat menolak apa pun risikonya. Saya ingin [Gunung Lawu] tidak boleh terlalu dieksploitasi. Yang kami jual pesona alamnya. Kecuali sudah darurat, negara sudah padam bila tidak mengambil energi dari situ, silakan,” tegas Juliyatmono.

Guna memaksimalkan pariwisata di Karanganyar, Pemkab bekerja sama dengan Uniba Solo yang membantu melalui penelitian-penelitian. Hasil dari penelitian ditindaklanjuti dengan eksekusi ke program-program yang konkret.

Menurut Yuli, sapaan Juliyatmono, kerja sama telah terjalin cukup dan banyak menghasilkan masukan-masukan melalui berbagai perspektif dan ditindaklanjuti Pemkab. Kedua pihak sama-sama memperoleh manfaat.

Pada bagian lain bupati mengatakan sekarang pertumbuhan pariwisata di Tawangmangu dan Ngargoyoso tumbuh subur. Pemkab akan mendesain pengembangan wilayah Karanganyar seimbang. Ke depan akan membedah kawasan selatan yaitu di Jatiyoso dengan membuat waduk yang dimulai tahun depan. Diharapkan langkah itu akan menjadi wisata baru dan nanti ada akses yang nyambung ke Gunung Lawu dan Wonogiri.

Sementara itu Rektor Uniba Solo, Pramono Hadi, berharap kerja sama dengan Karanganyar bisa berlanjut di tahun kedua. Penelitian tentang perkembangan unggulan perguruan tinggi terkait dengan Ekowisata di Karanganyar.

Sedangkan dari peneliti ada beberapa hal yang nanti mendapatkan capaian dari penelitian ini. Diharapkan dari publikasi juga bisa dijalankan, ada buku yang bisa diterbitkan dan temuan-temuan teknologi tepat guna bisa diterapkan di masyarakat. Imbasnya bisa menyejahterakan masyarakat.