Wonogiri Punya Kopi Lokal yang Tak Kalah Nikmat Loh!

Petani kopi di Desa Conto, Bulukerto, Wonogiri. (Istimewa/Bagus - Komunitas Kopi Wonogiri)
01 Oktober 2018 16:15 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Hari Kopi Sedunia yang diperingati setiap 1 Oktober menjadi momentum tersendiri bagi kebangkitan geliat kopi di Wonogiri.

Komunitas Kopi Wonogiri menggelar diskusi interaktif bersama para pegiat kopi, petani kopi, hingga penikmat kopi di Alun-Alun Giri Krida Bhakti. Dalam acara yang dilangsungkan pada Senin (1/10/2018) malam dan bertema Wonogiri Nduwe Kopi tersebut aka dibagikan seribu cangkir kopi seduh asli Wonogiri.

Pengolah kopi lokal Wonogiri yang tergabung dalam Komunitas Kopi Wonogiri, Yosep Bagus Adi, saat ditemui Solopos.com di rumahnya, Kelurahan Wonokarto, Kecamatan Wonogiri, Jumat (28/9/2018) siang mengatakan acara tersebut menghadirkan Ragil dari Kopi Sedulur.

Ragil merupakan seorang roaster kopi yang paham mengenai perkembangan kopi Wonogiri beberapa tahun terakhir. Selain itu ada Aprei, seorang pegiat Kopi Lawu yang telah lama membudidayakan Kopi Lawu yang sudah terkenal di Kota Solo.

Petani kopi asal Bulukerto, Sular, sebagai salah satu orang yang paling awal menanam kopi Arabica di Bulukerto serta Yahmin petani kopi asal Jatiroto juga akan turut meramaikan diskusi. Tak ketinggalan penikmat kopi lokal Wonogiri yang masif mempromosikan kopi lokal ke berbagai daerah yakni Verawati Joko Sutopo.

Komunitas Kopi Wonogiri selama ini memberikan pendampingan kepada para petani kopi di Wonogiri. Hal ini untuk mengembangkan kopi lokal Wonogiri yang rasanya tidak kalah dibanding kopi-kopi dari daerah lain.

“Teman-teman di komunitas melihat potensi kopi di Wonogiri sangat baik. Berbagai upaya telah dilakukan. Pada 2017 harga jual kopi berkisar Rp30.000 per kg kini sudah menjadi dua kali lipat setiap kilogram. Salah satu upaya yang dilakukan dengan memberikan edukasi kepada petani bahwa memanen kopi tidak asal panen namun ada caranya agar panen lebih berkualitas,” ujar Bagus, sapaan akrabnya.

Komunitas Kopi Wonogiri berdiri pada awal 2018. Selain melakukan edukasi kepada petani kopi, komunitas tersebut juga melakukan upaya pemasaran dengan branding kedaerahan.

Menurut Bagus, kopi single origin atau kopi yang berasal dari satu daerah atau satu varietas tanaman akan lebih mahal nilai jualnya dibandingkan kopi campuran.

“Branding daerah asal kopi sangat penting karena yang dicari orang adalah daerah tanam. Daerah tanam sangat memengaruhi rasa seperti faktor ketinggian dan tanaman di sekitar tanaman kopi sangat berpengaruh,” ujarnya.

Tak hanya edukasi, mereka juga membeli kopi dari para petani dengan harga mahal dengan tujuan menambah pendapatan petani dan pendampingan dapat berkersinambungan. Bahkan, mereka juga telah membantu memberikan alat pengupas kulit kopi atau pulper.

Ia meyakini kopi lokal Wonogiri sangat berpotensi terbukti dengan pengolah kopi lokal yang bermunculan seperti di Girimarto yakni Kowi atau Kopi Wonogiri, Kopi Wiji di Desa Brenggolo, dan Wonogirich. Kini Kopi Wonogiri juga telah dapat dibeli di kedai-kedai di Wonogiri dan Solo.

Komunitas Kopi Wonogiri saat ini memiliki 25 orang dari berbagai kalangan dari barista hingga pemilik kedai. Salah satu petani kopi Wonogiri, Sular, mengatakan ia mulai menanam kopi sejak 30 tahun lalu dengan meminta bibit kepada salah satu rekannya.

Setelah berbuah, ia memperbanyak hingga 200 batang pohon kopi yang kini para tetangganya pun di Desa Conto, Kecamatan Bulukerto, juga memulai menanam kopi.

Pembimbing Petani Kopi di Kecamatan Girimarto dan Bulukerto, Haryanto atau akrab dipanggil Anto mengatakan di Bulukerto saat ini ada sekitar 20 petani kopi sedangkan di Girimarto ada sekitar 15 petani kopi dengan jenis yang ditanam mayoritas robusta dan arabica.

Penikmat kopi, Verawati Joko Sutopo, mengaku sudah lama jatuh cinta dengan kopi Wonogiri. Istri Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, ini bahkan kerap mengenalkan kopi Wonogiri ke berbagai daerah yang ia kunjungi.

Ia meyakini kopi Wonogiri memiliki kualitas yang tidak kalah dibanding kopi lokal lain. Ia paling menyukai kopi jenis arabica single origin. Dalam sehari ia minum kopi sejumlah empat cangkir di saat bekerja maupun berkumpul bersama teman-teman.

“Saya pernah membawa ke Jogja melakukan cupping kepada teman-teman memberikan respons yang sangat baik. Mereka menebak kopi yang saya bawa berasal dari daerah lain yang sudah terkenal kopinya dan terkejut ketika saya mengenalkan bahwa kopi yang saya bawa dari Wonogiri,” ujar Vera.

Menurutnya, masyarakat lokal Wonogiri kurang mengetahui bahwa Kabupaten Wonogiri memiliki kopi lokal dengan kualitas bagus. Hal ini dikarenakan kopi Wonogiri tidak terkenal di daerahnya namun justru dijual ke daerah lain untuk diolah lebih lanjut.

Ia berharap antara dinas dan pegiat kopi dapat bersinergi sehingga proses edukasi petani kopi berjalan terus dan kualitas kopi semakin baik.